multi info, hiburan, pengetahuan, dan aneka informasi

Osama Bin Laden Ingin Investasi di Papua dan Kendari !

Teroris Indonesia Ancam Papua Nugini

Teroris asal Indonesia dikabarkan tengah mengincar perusahaan tambang dan energi Australia yang ada di Papua Nugini.

Demikian peringatan mantan Menteri Pertahanan Papua Nugini Mayor Jenderal (Purn) Jerry Singirok, seperti dikutip koran The National edisi Kamis (20/7) beberapa saat lalu.

Singirok menjelaskan, kelompok teroris asal Indonesia, yakni Jemaah Islamiah (JI), kini tengah berencana menyerang perusahaan tambang dan energi milik Australia. Karena itu, ia meminta aparat Papua Nugini untuk mengawasi masuknya pendatang ilegal di sepanjang perbatasan antara Papua Barat, Indonesia, dan Papua Nugini yang panjangnya mencapai 720 kilometer.

“Mereka akan mengincar investasi utama Australia di Papua Nugini. Seperti pernah diserukan Osama bin Laden, negara sekutu seperti Australia, Inggris, dan Amerika Serikat harus dipandang sebagai musuh utama,” paparnya ke kantor berita Australia.

Analisis bekas Panglima Angkatan Bersenjata Papua Nugini (PNGDF) ini telah diteruskan ke kantor Perdana Menteri Papua Nugini dan Komisi Tinggi Australia, tapi sampai sekarang pendapatnya belum mendapat respons.

Singirok memaparkan, perusahaan Australia di Papua Nugini yang akan dijadikan target JI antara lain adalah proyek gas Hides, yang membuat tambang gas yang digali di Papua Nugini bisa disalurkan langsung ke Australia melalui pipa bawah laut. Sasaran lainnya adalah tambang emas dan batu bara Ok Tedi dan Porgera. Pertambangan minyak milik Australia di Teluk Papua, menurut dia, merupakan salah satu sasaran potensial lainnya.

“Setiap teroris dapat menyasar bagian itu, karena di sana tidak ada mekanisme pertahanan dan sistem pengamanan yang baik,” ujarnya.

Karena itu, ia mengecam keras pengurangan tentara Papua Nugini oleh Australia dari 5.000 personel menjadi 2.000 orang.

Ia juga menuduh Australia sebagai otak di balik rasionalisasi tentara PNGDF dan menganggap rasionalisasi tentara itu “memalukan” dan merupakan “blunder terhadap keamanan” regional negara yang bersebelahan langsung dengan wilayah Indonesia, khususnya Papua Barat.

Karena itu, ia mengingatkan Australia akan menerima petaka akibat ulahnya. “Sebab investasi miliaran dolar Australia di Papua Nugini (akan terancam). Sementara investasi ini berpengaruh besar pada hajat hidup sebagian besar penduduk Australia,” ujarnya. (TN/Edy Haryadi/E4)

Bin Ladin Borong Saham Bakrie & Brothers
Ditulis pada Oktober 6, 2008 oleh abu ghozi

Bin Ladin Group memborong sebanyak 12% saham PT Bakrie & Brothers Tbk pada harga Rp330 per saham atau diperkirakan mencapai Rp3,71 triliun

Hidayatullah.com–Bin Ladin Group memborong sebanyak 12% saham PT Bakrie & Brothers Tbk pada harga Rp330 per saham atau diperkirakan mencapai Rp3,71 triliun, sehingga menambah kepemilikannya di perusahaan investasi itu menjadi 15%.

Seorang eksekutif yang mengetahui transaksi ini mengatakan transaksi jual beli saham tersebut ditutup sebelum libur Idulfitri yang berlangsung selama sepekan pada 30 September-5 Oktober.

“Kalau dihitung-hitung, setelah dikurangi biaya transaksi, pembelian saham terjadi pada harga Rp330 per saham,” tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Nilai transaksi itu lebih tinggi atau premium 34,69% dibandingkan dengan harga saham Bakrie & Brothers per penutupan 29 September yang sebesar Rp245 per saham.

Harga saham berkode perdagangan BNBR ini tidak beranjak dari posisi penutupan hari sebelumnya. Mengacu pada harga penutupan tersebut, nilai pasar Bakrie & Brothers mencapai Rp22,96 triliun.

Harga saham BNBR pada sepanjang tahun ini telah merosot 57,04% dibandingkan dengan level tertinggi yang berhasil dicapainya Rp717 pada 5 Februari.

Eksekutif yang tidak bersedia diungkap jati dirinya itu menambahkan Bin Ladin telah mempunyai 2%-3% saham di Bakrie & Brothers, yang pembeliannya dilakukan pada saat perusahaan milik keluarga Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie itu menggelar penawaran umum terbatas (rights issue) beberapa bulan yang lalu.

Dengan pembelian kembali saham tersebut, dia memperkIraqan kepemilikan Bin Ladin di Bakrie & Brothers meningkat menjadi sekitar 15%.

Menurut dia, Bin Ladin tertarik untuk memiliki saham di Bakrie & Brothers karena bisnisnya sejalan dengan bisnis utama perusahaan asal Timur Tengah itu, yakni di bidang infrastruktur khususnya konstruksi.

Bakrie & Brothers adalah perusahaan investasi yang mempunyai sejumlah anak usaha bergerak di berbagai bidang seperti energi, utilitas, infrastruktur, dan perkebunan. Anak usaha Bakrie & Brothers a.l. PT Bumi Resources Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk, dan PT Bakrie Indo Infrastructure.

Direktur Keuangan Bakrie & Brothers Yuanita Rohali menuturkan pemegang saham perseroan memang terdiri dari berbagai kebangsaan, termasuk dari Timur Tengah. Namun, dia tidak mengetahui secara persis transaksi tersebut.

“Saya belum cek. Ini merupakan share holder action. Ada banyak pemegang saham di Bakrie & Brothers, masalah siapa yang masuk saya tidak dapat berkomentar. [Soal kepemilikan Bin Ladin] itu saya dengar, tetapi tidak ada notifikasi ke perusahaan,” jelasnya.

Bin Ladin merupakan perusahaan konstruksi yang didirikan oleh Mohamed Bin Ladin, bapak Osama Bin Ladin.

Incar lahan

Bin Ladin Group sedang mengincar lahan seluas 500.000 hektare untuk mengembangkan pertanian padi dengan investasi sekitar US$4,37 miliar di Merauke, Papua.

Analis T Paramitra Alfa Sekuritas Gina N Nasution mengatakan pembelian saham PT Bakrie & Brothers Tbk tersebut akan menjadi sentimen positif bagi saham berkode BNBR tersebut di pasar

“Di tengah tren pergerakan bursa yang mixed, pembelian saham Bakrie oleh investor Timur Tengah akan menjadi sentimen positif, meski pengaruhnya terhadap indeks tidak terlalu besar,” tuturnya kepada Bisnis, kemarin.

Secara fundamental, lanjutnya, pembelian saham tersebut tidak banyak memengaruhi kinerja perseroan, karena hanya merupakan aksi jual beli kepemilikan saham biasa untuk menggali dana

Namun, dia memperkIraqan saham anak perusahaan Bakrie sedikit terimbas sentimen positif tersebut, terutama saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang tertekan karena penurunan harga minyak mentah dunia.

Anak usaha Bakrie lainnya adalah PT Energi Mega Persada Tbk, PT Bakrie Telecom Tbk, PT Bakrieland Development Tbk, dan PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk.

Dalam risetnya, analis PT CIMB-GK Securities Indonesia Rania Rahmundita menetapkan target harga saham BNBR pada harga Rp570. Dia mengambil posisi netral terhadap saham itumenyusul eksposur utang senilai US$1 miliar yang ditanggung perusahaan milik keluarga Bakrie ini.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blog Archive