cara mengembangkan kecerdasan kepribadian


Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paling cerdas. Namun kecerdasan itu harus dilatih agarpil keluar, serta dilihat oleh orang lain. Seseorang yang mengembangkan kecerdasannya, maka ing pendidikan dan psikologi mengungkapkan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki lebih dari satu jenis kecerdasan. Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient / IQ), Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient / EQ), Kecerdasan Sosial (Social Quotient), Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient / SQ), Kecerdasan Mengatasi Kesulitan (Adversity Quotient / AQ) dan dalam perkembangan . kesadaran lingkungan ada pula Kecerdasan Lingkungan (Ecological Quotient).

10 cara mengembangkan kecerdasan kepribadian 

1. Komunikasi (Communicating)
Selain memiliki pemahaman yang baik mengenai diri sendiri, (kekurangan dan kelebihan diri), seseorang juga harus punya kemampuan mengutarakan pendapat dan perasaan seseorang. Supaya apa? Supaya seseorang bisa dipahami dan diterima secara baik oleh lingkungan. Penerimaan ini akan membuat diri menjadi lebih nyaman. Untuk itu seseorang perlu mengembangkan keterampilan komunikasi. Seseorang belajar menyampaikan kebutuhan, keinginan, hambatan, harapan, pendapat, dan lainnya dalam komunikasi secara verbal (kata-kata) maupun nonverbal (bahasa tubuh dan ekspresi wajah).
Untuk mengasah kemampuan komunikasi secara verbal, caranya dengan mengungkapkan pendapat mengenai berbagai hal. Sementara kemampuan komunikasi nonverbal bisa diasah melalui kegiatan menafsirkan bahasa tubuh (body language) dan ekspresi wajah atau lewat gambar. Contoh, bila sedang berada dalam kendaraan umum, amati raut wajah orang perorang. Coba tafsirkan hubungan raut wajah tersebut dengan emosi yang sedang dialami oleh yang bersangkutan.
Selain itu, juga mempertajam pengamatan pada sikap orang-orang yang ditemui, apakah menyambut seseorang dengan senang hati, menantikan dengan antusias, menyambut dengan setengah hati, ataukah diam-diam tidak menginginkan pertemuan dengan seseorang? Ini bisa dipelajari dalam interaksi sosial seseorang sehari-hari melalui pengamatan yang cermat terhadap bahasa tubuh, raut wajah, isyarat tangan, postur tubuh, dll, sehingga seseorang bisa bersikap yang sesuai.
2. Hubungan dengan Orang Lain (Relating)
Seseorang hidup dalam masyarakat yang heterogen. Di dalamnya ada beragam suku bangsa, keyakinan, gaya hidup yang mempunyai beragam adat kebiasaan dan tata karma yang berbeda. Terdapat etika, nilai, dan kebiasaan yang berlaku pada masyarakat yang perlu dikenali agar dapat memilah yang sesuai dengan nilai pribadi seseorang untuk kemudian menyesuaikan diri dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Kasih Sayang (Loving)
Ini termasuk modal dasar dalam mengembangkan kecerdasan kepribadian. Memiliki kasih sayang terhadap diri sendiri, terhadap sesama, dan terhadap makhluk hidup lainnya merupakan inti dari mengemban amanah Allah di dunia ini. Ketika seseorang dapat menerima diri orang lain, merasa damai dengan diri seseorang apa adanya, seseorang mulai mengasihi diri seseorang sendiri dalam prosesnya. Ini merupakan bentuk kesyukuran seseorang terhadap karunia Allah yang luar biasa: diri seseorang sendiri. Manusia yang penuh kasih terhadap dirinya sendiri, mampu mensyukuri nikmat-Nya, akan mampu pula menjalankan peran yang ditakdirkan di dunia ini dengan mengasihi dan menyayangi sesama dan makhluk hidup lainnya.
4. Berbagi (Sharing)
Seseorang tidak menjalani hidup sendirian. Berbagi merupakan hal yang selalu dia lakukan dalam berhubungan dengan orang lain. Apakah seseorang dapat berbagi dengan tulus ikhlas? Ataukah seseorang berbagi dengan setengah hati karena merasa terpaksa? Adakah hal-hal yang seseorang rasa merupakan hak seseorang lalu “harus” dikorbankan demi kepentingan orang lain? Manusia biasanya baru akan bisa berbagi dengan ikhlas manakala kebutuhan pokoknya sudah terpenuhi, baik itu kebutuhan fisik, afeksi (rasa), intelektual, dan lain-lain. Jika seseorang mengetahui batasan diri seseorang, mana yang merupakan hak seseorang dan mana yang orang lain boleh dapatkan dari seseorang, maka seseorang bisa memiliki sikap yang jelas. Seseorang bisa menolak permintaan orang lain jika tidak sesuai pada suatu saat, dan lain kali ketika sesuai dengan diri seseorang, seseorang bisa memberikan apa yang mereka minta. Jadi seseorang merasa sehat, tidak selalu menjadi korban, tidak selalu merasa diinjak-injak dan terpuruk, dan ketika seseorang memberi seseorang akan bisa memberi dengan tulus dan ikhlas. 

5. Kepemilikan (Belonging)
Saat ini kondisi masyarakat sedang berada dalam situasi yang memprihatinkan. Jika seseorang melihat pemberitaan di media, banyak sekali seseorang temui permasalahan yang intinya adalah orang ingin memiliki apa yang bukan menjadi haknya. Contohnya pada kasus-kasus korupsi, kriminal, dan penganiayaan pada sesama. Seringkali tampak kabur mana batasan kepemilikan seseorang, seperti pada contoh kasus sengketa tanah. Kekaburan tersebut terjadi ketika orang kehilangan kemampuan membedakan mana hak dan kewajiban, mana kebutuhan dan keinginan, mana yang sah dan tidak sah, mana halal dan mana haram. Upaya memperbaiki kondisi ini bisa seseorang mulai dari diri seseorang sendiri, lalu diterapkan pada lingkaran orang-orang terdekat seseorang. Kemudian pada lingkaran yang lebih luas lagi. Ingatlah bahwa yang bisa diubah oleh seseorang hanyalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Tetapi yakin juga bahwa seseorang bisa menjadi agen perubahan dalam kehidupan yang mampu menaburkan benih-benih kebaikan, kebajikan, dan kemuliaan pada orang lain.
6. Kepedulian atau Perhatian (Caring)
Di dalam komponen ini terkandung pula masalah empati, kepekaan pada lingkungan, dan lainnya. Sebagai manusia yang memiliki daya upaya, seseorang diharapkan untuk juga peduli pada sesama. Menerapkan prinsip Empat Roda Berputar yaitu jika ada orang yang lemah maka dibantu, jika ada orang yang lupa maka diingatkan, jika ada orang yang salah maka dinasehati dan jika ada orang yang tidak bisa maka diajari. Kesemuanya merupakan perwujudan nyata dari rasa kepedulian yang seseorang miliki pada sesama.

7. Perasaan (Feeling)
Manusia yang dapat berfungsi secara optimal adalah mereka yang menggunakan 3 karunia Allah dalam dirinya: kemampuan berpikir (thinking), kemampuan merasa (feeling), dan kemampuan bertindak (acting). Akan tetapi pola asuh dalam masyarakat seseorang umumnya lebih banyak terfokus pada kemampuan pikir dan bertindak serta mengabaikan kemampuan “merasa”. Padahal ini adalah juga karunia luar biasa yang dapat membuat seseorang menjalani kehidupan sesuai fitrah-Nya. Bahwa manusia diberi beragam perasaan seperti sedih, senang, kesal, kecewa, takut dan lainnya adalah sebagai bekal bagi seseorang untuk menjalani kehidupan di dunia. Perasaan bisa menjadi rambu-rambu dan petunjuk bagi seseorang dalam berhubungan dengan orang lain.
 Menghayati perasaan sendiri dapat menerampilkan seseorang untuk mengelola perasaan agar kemudian bisa berpikir lebih jernih dan memiliki motivasi yang kuat untuk melakukan tindakan positif. Memahami perasaan diri juga memudahkan seseorang memahami perasaan orang lain. Hal ini akan menjadi keuntungan bagi seseorang ketika ingin berinteraksi dengan orang lain dengan baik.
8.  Pemilihan (Choosing)
Kemampuan untuk dapat memilih sesuatu, yang benar-benar sesuai dengan diri secara asertif (kebutuhan sendiri), bukan karena tekanan atau ikut-ikutan orang lain, adalah hal yang penting dalam kehidupan sosial. Kendatipun sesuai dengan diri, perlu juga memilah mana yang kebutuhan (need) dan mana yang keinginan (want) agar pilihan yang seseorang buat merupakan pilihan yang tepat sesuai konteks yang ada.
9.  Kehidupan (Living)
Kehidupan tak lepas dari tanggung jawab dan komitmen. Orang tua bekerja keras demi memenuhi tanggung jawabnya bagi keluarga. Anak berkomitmen kuat menjalani pendidikannya dengan baik demi mewujudkan cita-cita dan menjaga amanah orang tua. Dalam kehidupan ini tidak ada yang percuma. Jika seseorang menginginkan sesuatu, seseorang harus berupaya mendapatkannya. Seseorang perlu menjadi layak mendapatkannya. Tidak ada orang lain yang akan memberikannya begitu saja untuk seseorang nikmati. Seluruh ikhtiar seseorang dimaksimalkan dan dilandasi dengan doa.
10.  Mengatasi Masalah (Coping)
Ini merupakan juga keterampilan yang penting untuk seseorang kembangkan. Kenali diri, kelola emosi, (bila perlu) geser sudut pandang terhadap masalah, tentukan alternatif solusi yang mungkin, eksekusi solusi, evaluasi hasilnya. Ini merupakan langkah-langkah yang dapat seseorang upayakan ketika mengatasi masalah.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...