DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL PADA KLIEN DENGAN DIAGNOSA SKIZOFRENIA APLIKASI NANDA, NOC, NIC

NO
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TUJUAN
& KRITERIA HASIL (NOC)
INTERVENSI (NIC)
1.
Kerusakan komunikasi verbal
Data utama :
a.    Bicara tidak sesuai
b.    Tidak ada kontak mata
c.     Menggunakan kata-kata yang tidak punya arti/tidak berhubungan
TUPAN :
Klien tidak mengalami kerusakan komunikasi vebal dan menunjukkan kemampuan melakukan komunkasi verbal dengan orang lain dengan cara yang sesuai dan dapat diterima.
TUPEN :
1.       Setelah berinteraksi selama 3x24, klien mampu bertahan pada satu topik pembicaraan denan indikator/kriteria hasil :
a.       Kata-kata/kalimat-kalimat yang digunakan tepat/sesuai dengan topik pembicaraan.
b.       Kontak mata baik, mau menatap lawan bicara.













2.       Setelah dilakukan interaksi selama…..X, klien mampu menerima pesan komunikasi dengan indikator/kriteria hasil :
a.       Klien dapat menginterpretasikan pembicaraan orang lain.
b.       Klien dapat menginterpretasikan bahasa non verbal (isyarat tubuh/gesture, senyuman, kontak mata dsb)
c.        Klien bias menjelaskan maksud dari gambar, simbol-simbol atau tulisan-tulisan.
d.       Klien dapat menginterpretasikan/menilai pesan yang diterima dengan tepat.



3.       Setelah dilakukan interaksi selama…..X, klien mampu mengekspresikan informasi/pesan dengan jelas dan tepat, enggan indikator/kriteria hasil :
a.       Klien mampu mengungkapkan perasaannya secara verbal.
b.       Klien mampu menggunakan bahasa non verbal dengan tepat (gerak tubuh/gesture, senyum, kontak mata)
c.        Klien mampu mengekspresikan perasaannya lewat tulisan, gambar atau symbol.

4.       Setelah dilakukan interaksi selama …….X, klien mampu berkomunikasi secara baik dengan orang lain dengan indikator/kriteria:
a.       Kata-kata/kalimat yang digunakan untuk berkomunikasi tepat, jelas dan mudah dimengerti orang lain.
b.       Bahasa yang dipakai tidak membingungkan lawan bicara.
c.        Tidak terdapat neoligisme, ekolalia, assosiasi longgar, flight of ideas, inkoherensi, blocking, reming, dsb.
d.       Dapat mengekspresikan bahasa non verbal dengan tempat (gesture, kontak mata, senyuman, dsb).









5.       Setelah berinteraksi dengan keluarga selama…..X, klien mendapat dukungan dan dapat memanfaatkan dukungan keluarga dalam perawatan dirinya dengan indikator/kriteria hasil :
a.       Klien mendapat dukungan keluarganya selama dalam perawatan.
b.       Keluarga mengunjungi klien secara periodik/teratur.
c.        Klien mampu mengungkapkan perasaan dan pikirannya.
d.       Keluarga mampu menjelaskan kembali cara merawat klien dengan kerusakan komunikasi verbal.







1.       Mendengar Aktif (Active Listening)
a.       BHSP
-     Prinsip komunikasi terapeutik
-     Pertahankan konsistensi sikap (terbuka, tepati janji, hindari kesan  negatif)
-     Gunakan tahap-tahap interaksi dengan tepat
b.       Buat tujuan interaksi yang jelas
c.        Buat suasana tenang.
d.       Hindari hal-hal yang negative selama interaksi
e.        Dengarkan pembicaraan klien lalu identifikasi tema/ topik yang dominan
f.        Gunakan teknik validasi dan klarifikasi untuk mengetahui pola komunikasi klien
g.        Gunakan teknik mengatakan secara tidak langsung
h.       Fokuskan pembicaraan pada satu topic.
i.         Anjurkan untuk berbicara pelan-pelan, tenang dan jelas
j.         Gunakan bahasa yang konsisten pada saat berinteraksi
k.       Anjurkan/dorong klien untuk mempertahankan kontak mata saat berinteraksi

2.       Stimulasi Kognisi dan Restrukturisasi Kognisi
a.       Kaji kemampuan klien menginterpretasikan /menilai pesan/pembicaraan orang lain.
b.       Kaji kemampuan klien menangkap dan menerima isyarat non verbal dari orang atau lawan bicara.
c.        Bantu klien mengidentifikasi pesan/informasi yang diterima
d.       Bantu klien mengidentifikasi interpretasi yang salah terhadap pesan/informasi yang diterima.
e.        Bantu klien memperbaiki interpretasi yang salah.
f.        Berikan informasi yang tepat, singkat dan berurutan dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.
g.        Kuatkan dan ulangi informasi/pesan yang diberikan
h.       Minta klien untuk mengulang pesan/informasi yang diterimanya terebut.
i.         Gunakan alat bantu untuk menstimulasi memori klien.
j.         Beri reinforcement kepada klien.
k.       Libatkan klien dalam TAK

3.       Latihan Daya Ingat (Memory Training)
a.       Uji kemampuan klien memberikan pesan/informasi dengan cara meminta klien mengungkapkan perasaannya secara verbal atau melalui tulisan, gambar, simbul secara singkat dan jelas.
b.       Bantu klien mengingat kembali pesan/informasi yang sudah disampaikan kepada orang lain.
c.        Beri klien kesempatan unuk berkonsentrasi.
d.       Anjurkan klien untuk menerapkan teknik mengingat yang tepat melalui gambar, tulisan, symbol.
e.        Dorong klien untuk memperhatikan postur terbuka
f.        Berikan reinforcement atas keberhasilan/kemajuan klien.

4.       Mendengar Aktif dan Fasilitas Proses Belajar (Active Lisening dan Learning Facilitation)
a.       Atur tujuan komunikasi yang jelas dan realistis sesuai dengan kemampuan yang sudah dicapai klien.
b.       Pertahankan postur terbuka saat berkomunikasi.
c.        Dengarkan pembicaraan klien dengan penuh perhatian
d.       Catat adanya flight of ideas, reming, sirkumtansial, asosiasi linggar, inkoherensi, ekolali, blocking, neoligisme dan logore.
e.        Monitor pesan non verbal klien.
f.        Fokuskan pembicaraan pada satu topik yang konkrit.
g.        Anjurkan/dorong klien untuk berkonsentrasi pada topik pembicaraan.
h.       Gunakan bahasa yang familiar dan mudah dimengert.
i.         Koreksi intrpretasi ang salah terhadap informasi/pesan dengan menggunakan teknik klarifikasi dan falidasi.
j.         Beri kesempatan kepada klien untuk bertanya.
k.       Dukung klien menggunakan/mengekspresikan perasaannya.
l.         Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan klien.

5.       Tingkatan keterlibatan keluarga (Family Involvement Promotion)
a.       Kaji perepsi keluarga terhadap kejadian dan situasi yang menjadi factor pencetus.
b.       Kaji pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien dengan kerusakan komunikasi verbal.
c.        Identifikasi kemampuan dan keterlibatan keluarga dalam upaya perawatan klien.
d.       Berikan informasi tentang kondisi klien kepada keluarganya.
e.        Dorong keluarga untuk menjaga dan mempertahankan interaksi dengan klien secara tepat.
f.        Jelaskan pentingnya keterlibatan keluarga dalam perawatan klien.
g.        Jelaskan strategi/cara merawat dan berkomunikasi dengan klien.
h.       Dorong keterlibatan keluarga terhadap perawatan selama klien di rumah sakit.
i.         Dorong klien untuk mengungkapkan keinginan dan harapannya dari dukungan keluarga terebt.
j.         Fasilitasi pertemuan klien dan keluarga secara periodik/teratur.
k.       Libatkan klien dalam TAKS.
2.
Gangguan proses pikir
Data utama :
a.    Waham
b.    Tidak mampu berkonsentrasi
c.     Defisit memori
d.    Disosiasi (waktu, tempat, orang)
e.     Kelainan rentang perhatian
TUPAN :
Klien tidak mengalami gangguan proses pikir dan berfungsi optimal di lingkungan sosialnya.
TUPEN :
1.       Setelah dilakukan interaksi……X, klien mampu mengingat kejadian/masalah-masalah di masa lalu dengan indikator/kriteria hasil :
a.       Klien mampu mengingat kembali kejadian/masalah-masalah jangka pendek.
b.       Klien dapat mengingat kembali informasi/masalah-masalah jangka menengah.
c.        Klien dapat mengingat kembali informasi/masalah-masalah jangka panjang.













2.       Klien mampu meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar, setelah dilakukan interaksi selama…….X dengan indikator/kriteria hasil :
  1. Klien mampu mengidentifikasikan lingkungan sekitar sesuai realita/kenyataan.
  2. Klien mampu mengungkapkan perasaannya setelah mengidentifikasikan lingkungan sekitar.
  3. Klien mengungkapkan keuntungan mengidentifikasi lingkungan.

3.       Setelah dilakukan interaksi selama ……X, klien mengenal wahmnya dengan indikator/kriteria hasil :
  1. Klien mampu mengenal terjadinya waham.
  2. Klien mampu mengungkapkan isi waham.
  3. Klien mengungkapkan frekuensi waham.
  4. Klien mampu mengungkapkan perasaannya terkait dengan waham.



4.       Setelah dilakukan interaksi selama….X, klien mampu mengontrol waham dengan indikator/kriteria hasil :
  1. Klien tidak menanggapi wahamnya.
  2. Klien melaporkan penurunan frekuensi munculnya waham.
  3. Klien meminta validasi terhadap kebenaran /realita/kenyataan.
  4. Klien mendemonstrasikan penolakan hadirnya waham.
  5. Klien menunjukkan pola pikir yang logis.
  6. Klien menunjukkan kemampuan untuk memahami ide-ide atau pikiran orang lain.
  7. Klien mendemonstrasikan kemampuannya berinteraksi dengan orang lain secara tepat.
  8. Klien memanfaatkan obat dengan baik.

5.       Setelah dilakukan interaksi selama …….X, klien mampu mempertahankan konsentrasi dengan indikator/kriteria hasil :
  1. Klien mampu memperhatikan dan mendengarkan dengan baik saat diajak berbicara.
  2. Klien mampu melaksanakan instruksi sederhana yang diberikan.
  3. Klien dapat menjawab pertanyaan yang diberikan dengan tepat.











6.       Setelah dilakukan interaksi selama….X, kesadaran klien terhadap identitas personal, waktu dan tempat meningkat/baik, dengan indikator/kriteria hasil :
  1. Klien mampu mengenal ientitas dirinya dengan baik.
  2. Klien mengenal identitas orang disekitarnya dengan tepat/baik.
  3. Klien mampu mengidentifikasikan tempat dengan benar.
  4. Klien mampu mengidentifikasi waktu dengan benar.



7.       Setelah dilakukan interaksi selama….X, klien mendapat dukungan keluarga dan dapat memanfaatkan dukungan tersebut, dengan indikator/kriteria hasil :
  1. Keluarga dapat membina hubungan terapeutik dengan klien maupun perawat.
  2. Keluarga mengerti anda dan gejala dari gangguan proses pikir.
  3. Keluarga terlibat aktif dalam perawatan klien.
  4. Keluarga mengunjungi klien secara teratur/periodik selama klien dalam perawatan di rumah sakit.







1.       Latihan Mengingat (Memory Training)
a.       Monitor daya ingat klien.
b.       Kaji kemampuan klien dalam mengingat sesuatu.
c.        Diskusikan dengan klien dan keluarga beberapa masalah memori yang dialami.
d.       Ingatkan kembali pengalaman masa lalu klien dengan cara yang tepat.
e.        Stimulasi pikiran dengan mengulangi pikiran yang diekspresikan klien secara tepat (ingatkan klien tentang kejadian/peristiwa yang baru saja dialami klien).
f.        Implementasikan teknik mengingat dengan cara yang tepat seperti dengan gambar visual, membuat daftar/jadwal, menulis nama pada kartu, dsb.
g.        Bantu dalam tugas pembelajaran yang berkaitan, misalnya mengingat kembali verbal dan onformasi yang telah disampaikan dengan cara yang tepat.
h.       Latih orientasi klien, missal dengan mengingat hari, tanggal, jam, musim,informasi yang bersifat pribadi, dsb.
i.         Bari kesempatan kepada klien untuk melatih, konsentrasinya, missal dengan permainan mencocokkan kartu, halma, catur.



2.       Stimulasi Kognitif (Cognitive Stimulation)
a.       Monitor interpretasi klien terhadap lingkungan (mis : tempat, orang disekitarnya, dsb).
b.       Tempatkan objek/hal-hal yang familiar di lingkungan/di kamar klien (misalnya : jam dinding, gambar, foto, dsb).
c.        Buat jadwal aktivitas/kegiatan harian bersama klien.
d.       Dorong klien untuk melakukan aktifitas sesuai jadwal yang telah dibuat tersebut.
e.        Berikan Terapi Kognitif.
f.        Libatkan klien dalam TAK Orientasi Realita.




3.       Manajemen Delusi (Delusi Management)
a.       BHSP (prinsip komunikasi terapeutik dan mempertahankan konsistensi).
b.       Beri kesempatan klien untuk mendiskusikan wahamnya dengan petugas/perawat.
c.        Hindari mendebat atau mendukung waham.
d.       Fokuskan diskusi pada perasaan klien (takut, marah, terganggu,, dsb), bkan si wahamnya.
e.        Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan terkait dengan wahamnya.
f.        Hindarkan stimulasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan munculnya waham.
g.        Libatkan klien dalam TAK Orientasi Realita


4.       Managemen Delusi (Delusi Management)
a.       Observasi isi waham yang membahayakan.
b.       Bantu klien untuk mengeliminasi/menurunkan stressor yang menciptakan delusi.
c.        Dukung klien untuk memvalidasi keyakinan terhadap wahamnya dengan orang yang dipercaya/petugas/perawat.
d.       Dukung klien untuk melaksanakann jadwal kegiatan harian secara konsisten.
e.        Berikan aktivitas rekreasi atau aktivitas yang membutuhkan perhatian dan ketrampilan di waktu luang klien.
f.        Kelola pemberian obat-obat antipsikotik dan antidepresantsesuai dengan order/kebutuhan.
g.        Monitor efek samping obat.
h.       Jelaskan pentingnya kepatuhan klien terhadap aturan pengelolaan obat.






5.       Fasilitasi Kebutuhan Belajar (Learning Facillitation)
a.       Observasi kemampuan klien berkonsentrasi.
b.       Kaji kemampuan klien memahami dan memproses informasi dengan pertanyaan singkat dan sederhana.
c.        Tetapkan tujuan pembelajaran yang berguna dan realistis bagi klien.
d.       Berikan instruksi setelah klien menunjukkan kesiapan untuk belajar atau menerima informasi.
e.        Atur instruksi sesuai tingkat pemahaman klien dari yang singkat dan sederhana sampai yang lebih kompleks.
f.        Gunakan bahasa yang familiar dan mudah dipahami oleh klien.
g.        Dorong klien untuk menjawab pertanyaan dengan singkat dan jelas.
h.       Koreksi interpretasi yang salah dari informasi/pertanyaan yang diterima klien dengan cara yang tepat.
i.         Dorong klien ntuk terlubat aktif dalam pembelajaran.
j.         Beri reinforcement pada setiap kemajuan klien.
k.       Libatkan klien dalam TAK SS 9Stimulasi Sensori).

6.       Orientasi Realita (Reality Orientation)
a.       Monitor orientasi klien terhadap realita.
b.       Sapa klien dengan namanya pada saat interaksi
c.        Berikan informasi kepada klien terhadap orang, tempat, waktu sesuai kebutuhan.
d.       Tanyakan satu pertanyaan pada satu waktu.
e.        Beri satu perintah pada satu waktu.
f.        Berikan/libatkan klien dalam aktifitas yang konkrit/nyata.
g.        Gunakan tanda/gambar/symbol untuk menstimulasi dan meningkatkan orientasi.
h.       Hindari stimulasi yang berlebihan yang dapat meningkatkan disorientasi.
i.         Fasilitas kunjungan keluarga dan orang-oang yang familier dengan klien.
j.         Libatkan klien dalam TAK Orientasi Realita.

7.       Tingkatan Keterlibatan Keluarga (Family Involvement Promotion)
a.       Identifikasi kemampuan dan keterlibatan anggota kelarga dalam perawatan klien.
b.       Identifikasi harapan/expectasi keluarga terhadap kondisi klien.
c.        Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang hal-hal dan situasi-situasi yang berpengaruh pada kondisi klien.
d.       Tentukan tingkat ketergantungan klien terhadap keluarga.
e.        Berikan informasi tentang kondisi klien kepada keluarga.
f.        Jelaskan kepada keluarga cara merawat klien dengan gangguan proses pikir.
g.        Jelaskan pentingnya keterlibatan keluarga dalam perawtan klien.
h.       Dorong keluarga untuk terlibat aktif dalam upaya perawatan yang diberikan.
i.         Anjurkan keluarga secara periodik/teratur mengunjungi klien
3.
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi (Pendengaran/Penglihatan/ Pengecap/Penghidu/Peraba)
Data utama :
a.    Halusinasi sesuai karakteristik jenis halusinasi
b.    Ilusi
c.     Konsentrasi kurang
d.    Penyimpangan pendengaran dan penglihatan
e.     Perubahan pola perilaku
f.     Perubahan pola komunikasi
TUPAN :
Klien mampu menetapkan dan menguji realita/kenyataan, serta menyingkirkan kesalahan persepsi sensori.
TUPEN :
1.       Setelah dilakukan interaksi selama….X klien mampu membina hubungn saling percaya dengan indikator/kriteria hasil :
a.       Menunjukkan pemahaman verbal, tertulis atau sinyal respon.
b.       Menunjukkan gerakan dan ekspresi wajah yang rileks.
c.        Menunjukkan kontak mata, mau menjawab salam, menyebutkan nama, mau duduk berdampingan/berhadapan.





2.       Setelah dilakukan tindakan interaksi selama…X klien mampu mengenal halusinasi dengan indicator/criteria hasil :
a.       klien mampu memnyebutkan waktu, isi, frekuensi munculnya halusinasi
b.       klien mampu menyebutkan perilaku yang  biasa dilakukan saat halusinasi muncul.
c.        Klien mampu menebutkan akibat perilaku yang biasa dilakukan saat halusinasi terjadi.


 











3.       Setelah dilakukan interaksi selama …X klien mampu mengendalikan halusinasi dengan indikator/ kriteri hasil:
a.       Klien dapat menyebutkan cara baru mengendalikan halusinasi.
b.       Klien dapat memilih dan melaksanakan cara baru mengendalikan halusinasi
c.        Klien melaksanakan cara yang dipilih untuk mengendalikan halusinasi.








4.       Setelah dilakukann interaksi selama …X dengan dukungan keluarga, klien mendapat dukungan dalam mengendalikan halusinasi dengan indikator/ kriteria hasil :
a.       Keluarga dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.
b.       Keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda, dan tindakan untuk mengatasi halusinasi




5.       Setelah dilakukan interaksi selama ….X, klien dapat memanfatkan obat dengan baik dengan indikator/kriteria hasil :
a.       Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat, dosis, dan efek samping obat.
b.       Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar.
c.        Klien dan keluarga memahami akibat berhenti minum obat tanpa rekomendasi dari career.







1.       Bina Hunbungan Terapeutik dan Saling Percaya (Complex Relationship Building)
a.       Perkenalkan diri dengan sopan.
b.       Tanyakan nama lengkap klien dan nama pangilanyang disukai klien.
c.        Buat kontrakpersetujuan tentang tujuan dan cara pertemuan yang saling dapat diterima dengan cara yang tepat.
d.       Pelihara postur tubuh terbuka.
e.        Ciptakan iklim yang hangat dan menerima secara tepat.
f.        Berespons pada pesan nonverbal klien dengan cara yang tepat.
g.        Tunjukkanketertarikan pada klien dengan mempertahankan kontak mata, berhadapan , posisi mata sejajar, saat berbicara perawat sedikit membungkuk jika diperlukan.

2.       Manajemen Halusinasi (Halusination Management)
a.       Observasi tingkah laku yang berhubungna dengan halusinasi
b.       Bantu klien mengenal halusinasi :
1.       Jika dari hasil obervasi ditemukan tampak klien mengalami halusinasi, tanyakan apakah klien mengalami halusinasi.
2.       jika jawaban klien ada, tanyakan apa yang didengar, dilihat, atau dirasakan.
3.       katakana bahwa perawat percaya apa yang dialami klien tetapi perawat sendiri tiddak melihat/ mendengar/ merasakan.
4.       katakan bahwa klien lain juga ada yang mengalami hal yang sama.
5.       katakan bahwa perawat akan membantu klien.
c.        Diskusikan dengan klien waktu, isi frekuensi, dan situasi pencetus munculnya halusinasi.
d.       Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika halusinasi muncul
e.        Beri klien kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.
f.        Identifikasi dan diskusikan dengan klien perilaku yang dilakukan sat halusinasi muncul.
g.        Diskusikan manfaat dan akibat dari cara/ perilaku yang dialkukan klien
h.       Libatkan klien dalam TAK SP : Halusinasi ( sesi 1)

3.       Manajemen Halusinasi (Halusination Management)
a.       Diskusikan cara baru untuk memutuskan/ mengendalikan halusinasi :
1.      Dengan mengusir halusinasi
2.      Berbicara dengan orang lain
3.      Menyusun jadwal kegiatan harian
4.      Meminta pada oarng lain untuk menyapa jika tampak bicara sendiri
b.       Bantu klien memilih dan melatih cara memutus/ mengendalikan halusinasi secara bertahap
c.        Beri klien kesempatan melakukan cara mengendalikan atau memutus halusinasi yang telah dipilih dan dilatih.
d.       Evaluasi bersama klien cara baru yang dipilh dan diterapkan dibandingkan dengan cara yang biasa dilakukan.
e.        Berikan reinforcement kepada klien terhadap cara yang dipilh dan diterapkan.
f.        Libatkan klien dalm TAK Orientasi Realita, TAK SP Umum, TAK SP Halusinasi.
4.       Pendidikan Kesehatan : Proses Penyakit dan Perawatan (Teaching : Desease Process)
a.       Bina hubungan saling percaya
b.       Diskusikan dengan keluarga :
1)       Gejala halusinasi yang dialami pasien
2)       Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk mengontrol halusinasi
3)       Cara merawat anggota keluarga yang mengalami halusinasi di rumah (mis : beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, bepergian bersama).
c.        Anjurkan keluarga untuk mencari bantuan apabila tanda dan gejala halusinasi tidak terkendali.
d.       Berikan informasi tentang kondisi klien kepada keluarga dengan cara yang tepat.
5.       Fasilitasi Kebutuhan Belajar (Learning Facilitation)
a.       Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang obat dan manfaatnya
b.       Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang manfaat, dosis dan efek samping obat.
c.        Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat (jika waktunya minum obat) dan merasakan manfaatnya.
d.       Berikan penjelasan pada klien akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi/rekomendasi
e.        Diskusikan dengan klien tentang akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi.
f.        Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang manfaat dan efek samping obat.
g.        Fasilitasi pertemuan klien atau keluarga dengan dokter.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...