Pembelajaran Apresiasi Sastra

3.1 Pembelajaran Apresiasi Sastra

Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa. (2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra. (4) Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.

Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: (1) dilihat secara umum, dan (2) dilihat dari kurikulum yang digunakan di sekolah. Secara umum, tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa: (a) memperoleh pengalaman bersastra, dan (b) memperoleh pengetahuan sastra.

Tujuan untuk memperoleh pengalaman bersastra dimaksudkan agar siswa memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi sastra. Pengalaman tersebut dilakukan siswa dengan membaca hasil karya sastra, mendengarkan pembacaan karya sastra, menonton pementasan sastra. Jadi dalam hal ini siswa siswa mampu berekspresi sastra melalui pengekspresian karya sastra. Kegiatan pengekspresian tersebut dapat dilakukan dengan cara: menulis (puisi, cerpen, dialog), berdeklamasi, mementaskan drama, dll. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menulis surat kepada penulis hasil karya sastra tersebut. Hasil kreasi atau karya sastra dapat dipakai sebagai media dalam pembelajaran apresiasi sastra.

Tujuan untuk memperoleh pengetahuan sastra dilakukan tidak secara teoritis. Pengetahuan itu diajarkan bertolak dari pengalaman berapresiasi. Misalnya, dengan melalui puisi yang dibaca siswa, dijelaskan ciri-ciri puisi. Demikian pula halnya dengan ciri-ciri prosa dijelaskan setelah siswa membaca cerpen atau novel. Begitu pula dengan sejarah sastra. Sejarah sastra dimaksudkan berkaitan dengan apresiasi yang dilakukan terhadap karya sastra (puisi, prosa, dan drama). Dengan demikian tujuan pembelajaran sastra yang seperti ini, bagaimanapun perubahan kurikulum akan tetap diikuti serta ditemukan pertaliannya dengan tujuan pengajaran sastra secara umum.

Tujuan yang kedua dalam pembelajaran sastra secara khusus dapat dilihat dari kurikulum yang digunakan di sekolah. Pembelajaran sastra dalam kurikulum dikaitkan dengan kecakapan hidup siswa terhadap aspek-aspek kerumahtanggaan, kecakapan memecahkan masalah, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kecakapan berkomunikasi, pemilikan kesadaran pribadi dan rasa percaya diri, kemampuan menghindari stres, kemampuan membuat keputusan, kecakapan menjalin hubungan antarpribadi, pemahaman terhadap berbagai jenis pekerjaan, dan kecakapan vokasional serta pemilikan sikap positif terhadap kerja perlu dipupuk dan dikembangkan secara terpadu dan berkelanjutan, serta dinilai.

Untuk mengantisipasi kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran sastra dan bahasa pada umumnya diberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan guru. Rambu-rambu tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasi karya sastra. Kegiatan mengapresiasi karya sastra berkaitan erat dengan latihan mempertajam perasaan penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap budaya masyarakat, dan lingkungan hidup. (2) Perbandingan bobot pembelajaran bahasa dan sastra harus seimbang dan dapat disajikan secara terpadu. Misalnya, wacana sastra dapat digunakan sekaligus sebagai bahan pembelajaran bahasa. (3) Bahan pembelajaran pemahaman adalah mendengarkan dan membaca yang berlingkup pada pengembangan kemampuan menyerap gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan perasaan, serta mengapresiasikan karya sastra Indonesia, sastra daerah, dan sastra asing yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baik dalam bentuk puisi, prosa, maupun drama, termasuk cerita rakyat. (4) Bahan pembelajaran penggunaan adalah berbicara dan menulis yang berlingkup pada pengembangan kemampuan pengungkapan gagasan, pendapat, dan perasaan. (5) Sumber belajar siswa dapat berupa buku-buku yang diwajibkan, media cetak, media elektronika, lingkungan, narasumber, pengalaman dan minat anak, serta hasil karya siswa.

Selanjutnya, untuk mencapai tujuan pembelajaran sastra, materi sastra yang akan digunakan dalam pembelajaran sastra tentulah materi yang dipilih guru dan sesuai dengan kriteria yang layak untuk anak didik. Kriteria karya sastra yang layak digunakan guru adalah karya yang dipilih berdasarkan atas berbagai pertimbangan baik segi bahasa maupun segi kejiwaan.

Pertimbangan segi bahasa berdasarkan atas keterbacaan bahan ajar bagi siswa. Karya sastra yang akan diajarkan dapat dipahami siswa karena bahan tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka sehingga karya tersebut dapat dipahami.

Bahan pembelajaran sastra harus sesuai dengan tingkat perkembangan kejiwaan siswa. Moddy (1974:17) mengemukakan tahap perkembangan anak dalam menggeluti karya sastra sebagai berikut. (a) Tahap autistik (the austistic stage) usia 8-9 tahun. Pada tahap ini imajinasi anak belum mengarah kepada kehidupan nyata, tetapi masih pada tahap dunia fantasi. (b) Tahap romantis (the romantic stage) usia 10—22 tahun. Pada tahap ini siswa berada pada masa perkembangan menuju ke kesenangan pada dunia nyata, mengagumi tokoh hero atau pahlawan, menyenangi kisah-kisah kepahlawanan, pengembaraan hero, kisah-kisah petualangan menjelajahi dunia nyata. (c) Tahap realistis (the realistic stage) usia 13-16 tahun. Pada tahap ini anak mulai berfikir realistis. Pernyataan-pernyataan seperti “Benarkah terjadi?”, “Bagaimana hal itu terjadi?”, “Bagaimana ia melakukannya?”, dan sebagainya merupakan pertanyaan-pertanyaan yang selalu timbul yang memperlihatkan bagaimana perkembangan ke arah kehidupan nyata mulai berkembang. (d) Tahap generalisasi (the generalizing stage) usia 16-selanjutnya. Pada tahap ini siswa tidak hanya berminat pada hal-hal yang detil tetapi juga sudah mengarah pada berpikir abstrak, menggeneralisasi fenomena-fenomena kehidupan yang dialaminya, menentukan moral, dan secara umum berpikir secara filosofis.

Siswa yang termasuk dalam tahap usia autistik dan romantis, yaitu pada tahap dunia fantasi atau imajinasi, khayalan masih dominan dan berada pada masa perkembangan menuju ke kesenangan pada dunia nyata, mengagumi tokoh hero atau pahlawan, menyenangi kisah kepahlawanan, pengembaraan hero, kisah-kisah petualangan menjelajahi dunia nyata. Mereka masih sulit berpikir secara realistis dan belum mampu menggeneralisasikan permasalahan yang dihadapinya. Mereka masih kurang mampu berpikir secara abstrak, dan masih sulit menentukan sebab akibat dari suatu gejala.

Aspek pedagogis dalam pemilihan materi sastra sangat diperlukan. Aspek ini dapat dilihat dari segi moral yang dibicarakan dalam karya sastra, sikap, budi pekerti, perilaku yang positif, dan mengarah kepada pembentukan kepribadian siswa yang positif.

Segi estetis adalah segi yang berkaitan dengan nilai rasa, nilai keindahan yang bersifat subjektif. Kepekaan dalam menangkap nilai-nilai keindahan itu amat diperlukan. Segi estetis ditentukan oleh adanya keserasian bentuk dan isi karya sastra. Bentuk karya sastra dilihat dari bentuk fisik lahiriah karya sastra, sedangkan segi isi dapat dilihat dari ide atau pesan yang terdapat di dalam karya sastra.

Karya sastra yang sesuai dengan latar belakang lebih mudah dipelajari dan dihayati. Karena itu, pertimbangan terhadap latar belakang kehidupan siswa selayaknya merupakan bagian dari proses pemilihan bahan ajar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengambil hasil karya sastra daerah atau yang menceritakan kehidupan mansyarakat daerahnya, biala diperlukan biarkan siswa menulis sendiri pengalamannya.

Keabsahan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa harus diperhatikan. Kumpulancerpen, puisi atau novel yang dibaca merupakan sumber informasi dari keabsahan materi sastra yang akan diajarkan guru. Pengamatan terhadap sumber materi ini sangat perlu dilakukan guru sebelum proses mengajar dilakukan. Selain itu, dalam pembelajaran apresiasi sastra juga dapat dilakukan dengan menggunakan berbaga media pembelajaran. Media yang dapat digunakan dalam pembelajaran apresiasi sastra misalya: laboratorium bahasa, gambar, novel, teks (prosa, puisi, atau drama).

3.2 Pembelajaran Apresiasi Prosa

Pembelajaran apresiasi sastra meliputi pembelajaran prosa, puisi, dan drama. Pembelajaran prosa yang ditawarkan antara lain sebagai berikut. (1) Membaca cerita pendek atau novel dan mendiskusikan cara penyampaian pesan atau amanat yang terdapat dalam karya sastra tersebut. (2) Membahas konflik yang terdapat dalam cerita pendek atau novel/ roman.

Kegiatan awal yang dilakukan guru adalah mempersiapkan cerpen atau novel yang akan digunakan sebagai bahan pembelajaran apresiasi prosa. Pada kegiatan tersebut guru menandai bagian mana yang akan didiskusikan dengan siswanya, apakah alur, tema, tokoh, sudut pandang, atau amanat dalam prosa tersebut. Selain itu guru harus memperhitungkan waktu yang tersedia dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Hal lain yang penting adalah adanya gagasan pokok yang akan disampaikan kepada siswa yang merupakan acuan ke arah pembentukan moral mereka. Gagasan pokok tersebut ibarat niat guru dalam membelajarkan siswa di dalam pembentukan moral, pembentukan kepribadian siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran sastra di dalam kurikulum.

Selain persiapan guru, persiapan siswa juga diperlukan. Mengingat membaca cerpen memerlukan waktu yang cukup lama, diperlukan dulu membaca di luar jam tatap muka di kelas (misalnya dengan tugas membaca di rumah). Pada waktu membaca, siswa ditugasi memberi tanda pada bagian-bagian yang perlu dipertanyakan, atau memberi tanda bagian yang menarik perhatiannya di dalam cerpen yang dibacanya.

Setelah guru dan siswa mempunyai kesiapan untuk pembelajaran cerpen, di kelas berlangsung kegiatan diskusi tentang cerpen tersebut. Hal ini tentunya guru sudah mempersiapkan rambu-rambu dalam kegiatan diskusi tersebut. Rambu-rambu tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Peristiwa cerita, dapat dimulai dengan cara mengajukan pertanyaan berikut.

a. Peristiwa apa yang dikemukakan pengarang untuk mengawali ceritanya?

b. Apa peristiwa selanjutnya?

c. Adakah hubungan antara peristiwa-peristiwa tersebut?

2. Tokoh dan penokohan, diskusi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Melihat para tokoh, siapa tokoh utama, bawahan atau tambahan?

b. Mengapa disebut sebagai tokoh utama atau tambahan?

c. Dari sudut fungsiya, siapakah yang disebut sebagai tokoh protagonis dan antagonis?

d. Mengapa disebut tokoh protagonis dan antagonis?

e. Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata, adakah tokoh seperti itu?

3. Latar (waktu, tempat, dan suasana), dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.

a. Di mana peristiwa itu terjadi?

b. Kapan peristiwa itu terjadi?

c. Berapa lama peristiwa itu berlangsung?

d. Pada suasana apa peristiwa itu terjadi?

4. Sudut pandang, diskusi dapat dilakukan dengan cara berikut.

a. Dari sudut pandang siapa peristiwa itu diceritakan pengarang?

b. Bukti-bukti apa yang memperlihatkan sudut pandang tersebut?

5. Tema, kegiatan diskusi dapat dilakukan sebagai berikut.

a. Apa tema cerita?

b. Di bagian mana tersirat tentang tema?

c. Apa yang menjadi bukti bahwa tema tersurat dalam cerita?

5. Amanat, dapat didiskusikan sebagai berikut.

  1. Apakah amanat yang ada dalam cerita?
  2. Apakah amanat tersebut secara tersurat atau tersirat?
  3. Apakah amanat tersebut dapat diterima dalam kehidupan sehari-hari?

6. Kesan

Apa kesan siswa tentang cerita yang didiskusikan merupakan pertanyaan untuk membangkitkan perasaan siswa terhadap isi cerita. Kelancaran diskusi tentang kesan yang dipelajari sangat tergantung pada aktivitas yang dilancarkan guru dalam menggiring pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan apresiasi siswa. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya pertanyaan yang bersifat kognitif, tetapi juga pertanyaan yang bersifat afektif dan psikomotor.

3.3 Pembelajaran Apresiasi Puisi

Pembelajaran apresiasi puisi dapat dilakukan dengan memadukannya dengan empat aspek keterampilan berbahasa, yakni: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pembelajaran apresiasi sastra; baik prosa, puisi, maupun drama; siswa tidak hanya sekadar sebagai penikmat hasil sastra (pembaca atau pendengar) saja, namun siswa juga dituntut untuk kreatif menulis.

Pembelajaran yang berkaitan dengan tujuan tersebut dapat dilakukan dengan cara: membaca, mendeklamasikan, menciptakan puisi, dan mendiskusikan tema, keindahan bahasa, serta hal-hal yang menarik dari puisi tersebut. Kegiatan yang dilakukan siswa antara lain berikut ini.

(1) Puisi yang telah disiapkan guru (dapat juga yang telah ditulis oleh siswa) dibaca oleh siswa atau dideklamasikan siswa. Setelah siswa membaca/mendeklamasikan puisi, tentu siswa memperoleh pengalaman tentang isi, bahasa dan gaya bahasa yang digunakan, dan sebagainya.

(2) Puisi yang telah dibaca didiskusikan dari berbagai segi yang menarik untuk didiskusikan. Misalnya: wujudnya, sudut penuturan, pokok yang diungkapkan, sudut pandang, perasaan yang terlibat di dalamnya, amanat, tema, dan sebagainya. Tentang wujud puisi, dibahas antara lain bait, larik, dan sajak. Tentang sudut penuturan, misalnya dibahas siapa yang bertutur dan kepada siapa dia bertutur, serta bagaimana nada penuturannya. Tentang pokok yang diungkapkan, dibahas hal-hal apa yang dikisahkan, digambarkan, atau didialogkan. Tentang perasaan, dibicarakan tentang perasaan yang terlibat di dalamnya, misalnya sedih, gembira, rindu, benci, dan tertekan. Tentang amanat, dibicarakan tentang apa yang ingin dibicarakan penyair melalui puisi tersebut, juga apakah amanat dalam puisi tersebut tersirat ataukah tersurat.

(3) Setelah dilakukan pembahasan, puisi tersebut dibaca lagi, dinikmati lagi secara utuh. Dengan demikian diharapkan pemahaman yang lebih tinggi lagi serta pemahaman yang lebih jelas tentang puisi yang akan dibaca.

(4) Hasil pembahasan puisi itu dihubungkan pula dengan kehidupan masing-masing siswa, sehingga puisi menjadi lebih bermakna dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Demikian kemungkinan penyajian bahan pengajaran puisi di sekolah. Untuk pencapaian penulisan kreatif, dapat juga dilakukan kegiatan menulis puisi yang sesuai dengan tema yang ditentukan atau dipilih siswa. Untuk menulis puisi bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi perlu motivasi yang tinggi oleh guru untuk membangkitkan semangat menulis puisi. Puisi yang mereka tulis dapat dipajang di majalah dinding atau majalah sekolah.

Kebermaknaan sebuah puisi dapat dilakukan dengan memadukan bidang seni lainnya. Misalnya, teknik yang dapat dilakukan guru di sekolah adalah musikalisasi puisi, yaitu perpaduan antara seni musik dan seni sastra di kalangan siswa. Untuk musikalisasi puisi ini diperlukan alat-alat musik yang dikuasai siswa. Keterpaduan lain yang dapat dilakukan adalah keterpaduan antara seni lukis dengan puisi. Sebuah lukisan bunga, misalnya, dapat ditulis dengan sebuah puisi yang berkaitan dengan bunga tersebut sehingga ekspresi kedua bidang seni lebih terasa.

3.4 Pembelajaran Apresiasi Drama

Drama adalah salah satu genre sastra yang berada pada dua dunia seni, yaitu seni sastra dan seni pertunjukan atau teater. Orang yang melihat drama sebagai seni sastra menunjukkan perhatiannya pada seni tulis teks drama yang dinamakan juga dengan seni lakon yang teknik penulisannya berbeda dengan teknik penulisan puisi atau prosa. Orang yang menganggap drama sebagai seni pertunjukan (teater) fokus perhatiannya ditujukan pada pertunjukannya atau pementasannya, tidak semata pada teksnya saja. Teks sastra menurut pandangan mereka hanyalah bagian dari seni pertunjukan yang harus berpadu dengan unsur lainnya, yaitu gerak, suara, bunyi, musik, dan rupa. Bahkan sumber ekspresi seni pertunjukan tidak hanya teks drama melainkan juga teks-teks lainnya di luar unsur sastra, seperti teks pidato, pledoi, dan penyidikan, berita di media massa, esai, dan lain-lain.

Akan tetapi, baik drama sebagai karya sastra maupun sebagai bagian dari kelengkapan teater, teks drama selalu mengarah pada pementasan. Hal inilah yang membedakan genre sastra drama dengan genre sastra puisi maupun prosa fiksi. Arah terhadap pementasan itu menyebabkan drama identik dengan pementasan.

Berdasarkan pembelajaran yang ditawarkan, guru dapat merancang pembelajaran drama yang mengajak siswa beraktivitas dengan kegiatan drama. Misalnya, guru akan melaksanakan pembelajaran menulis pengalaman yang manarik dalam bentuk drama. Untuk menulis naskah drama, tentunya diperlukan pemahaman tentang unsur-unsur yang terdapat di dalam teks drama.

Sebagai sebuah teks sastra, drama merupakan suatu genre sastra yang mempunyai konvensi (kaidah) yang dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Pertama, yang berhubungan dengan kaidah bentuk, yaitu adanya alur dan pengaluran, tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, dan perlengkapan (sarana). Kedua, yang berhubungan dengan kaidah stilistika, yaitu bahasa serta dialog yang digunakan sesuai dengan lingkungan sosial, watak yang diemban tokoh, serta amanat yang disampaikan melalui dialog-dialog yang dikemukakan.

Di sisi lain, Remy Silado mengemukakan, dalam memahami teks drama terdapat empat kualifikasi yang perlu diperhatikan. Keempat kualifikasi tersebut adalah: (1) isi dramatik, (2) bahasa dramatik, (3) bentuk dramatik, dan (4) struktur dramatik.

Isi dramatik adalah gagasan yang akan dikemukakan dalam drama. Misalnya, “Sepandai-pandai tupai melompat sekali jatuh juga”. Dari gagasan tersebut, dapat dikembangkan sebuah drama bagaimana seseorang harus berjalan pada jalan yang benar, tidak sombong, karena manusia mempunyai kelemahan. Bahasa dramatik adalah bahasa drama yang digunakan, apakah bahasa prosaik, puitik, atau sosiologik yang akan digunakan.

Bentuk dramatik adalah ragam ekspresi, gaya ekspresi, dan plot literer. Ragam ekspresi yang digunakan secara umum adalah tragedi, komedi, tragedi-komedi, melodrama, dan banyolan (force). Gaya ekspresi adalah visi dan pandangan penulis yang penuangannya sesuai dengan paham atau aliran yang dianut pengarang. Apakah realisme, ekspresionisme, eksistensialisme, atau absurdisme. Plot literer adalah plot yang terdapat dalam teks drama.

Struktur dramatik adalah perkembangan antara konflik yang muncul, memuncak, dan berakhir. Penampilan bentuk fisik teks drama yang berbeda dengan teks pada fiksi adalah dialog. Melalui dialoglah berkembangnya jalan cerita. Penunjukan tentang latar yang dikehendaki dituliskan dengan rinci.

Berdasarkan atas pandangan tentang struktur drama, siswa dapat mengembangkan pengalamannya yang menarik untuk dituliskan menjadi sebuah teks drama. Mereka bebas memilih tokoh yang akan dituangkan dalam dialognya. Demikian juga dengan latar yang dikehendakinya. Kebebasan berekspresi dalam drama akan dapat membangkitkan aktualisasi diri mereka.

BAB III

EKSPRESI KARYA SASTRA

3.1 Ekspresi Puisi

a) Menulis Puisi

Ekspresi tulis puisi adalah segala kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik dalam menulis puisi. Pada saat Anda menemukan peristiwa yang luar biasa, misalnya jatuhnya pesawat terbang, gerhana matahari total, atau gelapnya siang hari karena letusan sebuah gunung berapi, perasaan apa yang ingin Anda ungkapkan? Apabila Anda mendapatkan hadiah undian ratusan juta rupiah atau bertemu dengan saudara yang telah beberapa tahun menghilang, perasaan apa yang akan Anda luapkan? Sedih, gembira, bahagia, atau campuran dari semuanya? Pengalaman tersebut merupakan bahan berharga apabila diekspresikan melalui puisi.

Barangkali kita tidak dengan sengaja menulisnya sebagai puisi karena hanya menuangkannya, misalnya, ke dalam buku harian. Cobalah buka kembali buku harian Anda. Mungkin Anda akan terkejut karena di sana Anda telah menguntai kata dan kalimat secara emotif. Hal itu tidak saja karena Anda telah mengekspresikan diri Anda sendiri, namun kondisi manusia sebagai homo ludens ‘makhluk bermain’ dan homo fabulans ‘makhluk bersastra’ mendorong kita untuk melakukan semua itu.

Apabila kegiatan menulis buku harian itu kita lakukan sebagai pengisi waktu luang, kini kita akan mencoba berekspresi secara khusus, yaitu dengan menulis puisi lama dan modern. Kegiatan ini, meskipun khusus menulis puisi, hendaknya jangan dianggap terlalu serius. Yang penting adalah mengembangkan imajinasi dan emosi kreatif kita dengan sarana puisi yang sudah kita kenal, yaitu puisi lama dan puisi modern.

(1) Menulis Puisi Lama

Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait. Silakan Anda perhatikan puisi lama berikut:

dari mana datangnya lintah

dari sawah turun ke kali

dari mana datangnya cinta

dari mata turun ke hati.

Puisi di atas adalah salah satu bait puisi lama dalam bentuk pantun. Apabila Anda akan menulis puisi lama dengan bentuk demikian, syarat-syarat yang harus Anda patuhi adalah jumlah larik dalam setiap baitnya harus berjumlah empat, jumlah suku kata dalam setiap lariknya harus antara delapan dan dua belas, rimanya mesti berpola a-b-a-b (larik ke-1 dan larik ke-3 mesti sama, demikian juga larik ke-2 dan larik ke-4), dan dua larik pertama mesti memuat sampiran, sedangkan dua larik terakhir mesti memuat isi, makna, amanat, atau pesan pantun.

Penyebutan puisi lama disebabkan adanya fenomena puisi setelahnya yang dianggap baru. Namun, yang lebih perlu Anda pahami adalah bahwa puisi lama merupakan pancaran masyarakat lama atau warisan budaya nenek moyang kita yang masih hidup dalam tradisi lisan. Karena tradisi ini menuntut orang mengingat dan menghafal, maka wajar saja jika dalam puisi lama terkandung syarat-syarat tertentu. Di sisi lain, syarat-syarat tersebut karena dijadikan sarana dalam berekspresi secara berulang-ulang, maka jadilah formula atau kaidah tetap yang menjadi ciri setiap bentuk puisi. Bentuk lainnya yang juga termasuk puisi lama adalah bidal, gazal, gurindam, mantra, masnawi, nazam, kithah, rubai, seloka, syair, talibun, dan teromba.

Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak, kita akan menekuninya sebagian saja, terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern, yaitu pantun, syair, dan mantra.

Pantun

Seperti sudah disinggung sebelumnya, pantun merupakan ragam puisi lama. Baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat dalam larik ketiga dan keempat. Berdasarkan struktur dan persyaratannya, pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa, pantun kilat atau karmina, dan pantun berkait.

Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas, namun dengan tambahan, isinya berisi curahan perasaan, sindiran, nasihat, dan peribahasa. Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. Perhatikanlah pantun berikut, yang termasuk pantun biasa dan cukup populer karena dijadikan lirik sebuah lagu oleh Rhoma Irama:

Berakit-rakit ke hulu

berenang-renang ke tepian

Bersakit-sakit dahulu

bersenang-senang kemudian.

Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa. Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat, yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. Perhatikanlah beberapa karmina berikut:

Ada ubi ada talas,

Ada budi ada balas.

Anak ayam pulang ke kandang,

Jangan lupa akan sembahyang.

Satu dua tiga dan empat,

Siapa cepat tentu dapat.

Pantun berkait, kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai, merupakan pantun yang sambung-bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. Dengan catatan, larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya:

Tanam melati di rumah-rumah

ubur-ubur sampingan dua

Kalau mati kita bersama

Satu kubur kita berdua.

Ubur-ubur sampingan dua

Tanam melati bersusun bangkai

Satu kubur kita berdua

Kalau boleh besusun bangkai

Meskipun pantun merupakan puisi lama, tidak ada yang akan melarang

apabila kita memanfaatkannya sebagai sarana pergaulan kini. Terlebih-lebih, aspek didikan dan hiburan sebagai fungsi sastra dalam mayarakat lampau kita tidak terpisahkan di dalamnya. Contoh pantun di atas dapatlah dijadikan sebagian bukti.

Apabila kata-kata dalam contoh pantun tersebut dianggap terlalu arkais dan kemelayu-melayuan, kita dapat menggantinya dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Tentunya, semua kita lakukan dengan tetap mengikuti formula dan syarat-syarat sebuah pantun. Misalnya, dalam acara hiburan di salah satu televisi swasta, pantun yang bersifat humor telah menjadi paket acara tersendiri. Dalam acara rekreasi ke tempat objek wisata, ulang tahun, atau perpisahan, berbalas pantun melalui iringan gitar dapat pula dijadikan kegiatan pelepas lelah dan media berkenalan. Dengan pantun kita pun dapat memanfaatkan kelebihan dan kekurangan orang lain atau diri sendiri sebagai bahan gelak tawa, lelucon, dan banyolan yang dapat menyegarkan suasana. Di sela-sela kesibukan kuliah pun kita dapat membuat pantun, seperti berikut ini:

silau lentera di dalam tenda

tikus sawah di atap bambu

walau usia masihlah muda

lulus ujian tetaplah perlu.

burung perkutut di atas galah

kayu cendana dibuat bangku

tuntut ilmu tiada lelah

jadi sarjana cita-citaku

Apabila formula pantun di atas dianggap cukup panjang, kita dapat memanfaatkan karmina sebagai alat pergaulan. Biasanya para remaja menuliskan catatan tambahan dalam surat yang dituliskannya kepada seorang teman dengan karmina berikut:

empat kali empat enam betas,

sempat tidak sempat harus dibalas.

Seorang ketua tingkat dapat pula menempelkan secarik kertas di papan pengumuman dengan karmina berikut:

makan kupat disiram kuah,

jangan lupa kita kuliah.

Syair

Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke nusantara. Seperti halnya pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Akan tetapi, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan kata lain, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Apabila pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a.

Karena bait syair terdiri atas isi semata, maka antara bait yang satu dan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa. Marilah kita sejenak memperhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk:

Bismillah itu mulia dikata

Limpah rahmat terang cuaca

Berkat Mohammad penghulu kita

Ialah penghulu alam pendeta

Al rahman itu sifat yang sani

Maknanya murah amat mengasihani

Kepada mumin hati nurani

Di situlah tempat mengasihani

Al rahim itu pengasihan kita

Kepada Allah puji semata

Itulah Tuhan yang amat nyata

Memberi hambanya berkata-kata

Dengarkan tuan suatu rencana

Dikarang oleh dagang yang hina

Sajaknya janggal banyak tak kena

Dari pada akal belum sempurna

Mantra

Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama. Masyarakat zaman dulu percaya bahwa mantra itu mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance 'kerasukan'. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif.

Karakteristik mantra memang sangat unik. Karena keunikannya itulah kita tidak dapat membandingkan bentuknya dengan puisi yang telah kita singgung sebelumnya, baik dengan pantun maupun syair. Terlebih-lebih, mantra hanya dapat dilontarkan oleh orang yang dianggap telah memiliki syarat-syarat tertentu. Namun, untuk kepentingan ekspresi, tidak ada salahnya apabila kita mencoba untuk membuat mantra. Meskipun formula mantra tidak sekaku pantun dan syair, kita perlu juga mengetahuinya sehingga memudahkan kita untuk menyusunnya. Menurut Umar Junus (1983:135), ciri­-ciri mantra adalah sebagai berikut:

a. di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah;

b. mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi;

c. mantra menggunakan kesatuan pengucapan;

d. mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya;

e. mantra merupakan sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius;

f. dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.

Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak.

Pulanglah engkau kepada rimba sekampung,

Pulanglah engkau kepada rimba yang besar,

Pulanglah engkau kepada gunung guntung,

Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu,

Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang,

Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering,

Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Kita belajar untuk membuat mantra bukan karena kemanjuran dan daya gaibnya sebab anggapan seperti itu hanya terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Kita kini mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Terlebih-lebih, puisi modern yang akan kita bicarakan nanti masih memanfaatkan puisi lama, khususnya pantun dan mantra, sebagai alat ucap puitiknya.

(2) Menulis Puisi Modern

Puisi modern dianggap berbeda dengan puisi lama sehingga ada yang menyebutnya dengan "puisi baru". Karena puisi modern tidak terikat lagi oleh syarat-syarat seperti pantun, syair, dan mantra, maka ada juga orang yang menyebutnya dengan "puisi bebas" dan karena puisi modern adalah puisi yang ditulis kini dan ada di sekitar kita kini, maka ada juga yang menyebutnya dengan "puisi mutakhir" dan "puisi kontemporer".

Puisi lama dengan puisi modern, meskipun berbeda, tidaklah bertolak belakang sepenuhnya. Dalam pertumbuhan awal puisi modern, kita masih dapat melihat pengaruh puisi lama di dalamnya, seperti tampak dalam puisi Sanusi Pane berikut:

DIBAWA GELOMBANG

Alun membawa bidukku perlahan,

Dalam kesunyian malam waktu,

Tidak berpawang, tidak berkawan,

Entah ke mana aku tak tahu.

Jauh di atas bintang kemilau,

Seperti sudah berabad-abad,

Dengan damai mereka meninjau,

Kehidupan bumi, yang kecil amat.

Aku bernyanyi dengan suara,

Seperti bisikan angin di daun;

Suaraku hilang dalam udara,

Dalam laut yang beralun-alun.

Alun membawa bidukku perlahan,

Dalam kesunyian malam waktu,

Tidak berpawang, tdak berkawan,

Entah ke mana aku tak tahu.

Puisi di atas terdiri atas empat larik setiap baitnya, per larik lebih kurang empat kata atau delapan sampai dengan dua belas suku kata dan berpola rima akhir a-b-a-b. Apabila kita perhatikan selintas, puisi tersebut sama dengan pantun. Namun, apabila kita telaah lebih lanjut, ternyata di dalamnya tidak terdapat sampiran. Apakah puisi ini berbentuk syair? Syair memang tidak memiliki sampiran, akan tetapi rima akhirnya mesti berpola a-a-a-a. Selain itu, isi puisi di atas bukanlah cerita, melainkan tumpahan rasa sebagai manusia yang tengah terombang-ambing sendirian di atas perahu dan di laut lepas. Gambaran manusia seperti itu tampaknya bukanlah khusus ditujukan kepada pengarangnya sendiri, melainkan untuk manusia pada umumnya. Dengan demikian, puisi ini memang menggambarkan manusia secara konkret, namun justru untuk menunjukkan keadaannya yang abstrak. Dengan kata lain, puisi ini menyimbolkan hidup manusia. Kecanggihan semacam ini tampaknya tidak pernah terdapat dalam puisi lama, baik pantun maupun syair.

Di samping itu, ada juga penyair modern yang menunjukkan pembaharuan puisi dengan sarana estetika puisi lama. Hal itu dapat dianggap sebagai ironi atau kritik terhadap puisi lama, seperti tampak dalam puisi Rustam Effendi berikut

BUKAN BETA BIJAK BERPERI

Bukan beta bijak berperi,

Pandai menggubah madahan syair,

Bukan beta budak Negeri,

musti merantut undangan mair.

Sarat saraf saya mungkiri

Untai rangkaian seloka lama,

beta buang beta singkiri,

sebab laguku menurut sukma.

Susah sungguh saya sampaikan,

degup-degupan di dalam kalbu,

Lemah laun lagu dengungan,

matnya digamat rasaian waktu.

Sering saya susah sesaat,

sebab madahan tidak nak datang,

Sering saya sulit menekat,

sebab terkurang lukisan mamang.

Bukan beta bijak berlagu,

dapat melemah bingkaian pantun,

Bukan beta berbuat baru,

hanya mendengar bisikan alun.

Sanusi Pane dan Rustam Effendi adalah sastrawan yang tergolong ke dalam Angkatan Pujangga Baru. Angkatan ini hidup sekitar tahun 1930-an sampai dengan awal tahun 40-an. Akan tetapi, pengaruh puisi lama terhadap puisi modern tidaklah berhenti pada angkatan tersebut. Para penyair setelahnya, seperti Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Sitor Situmorang pun masih menampakkan pengaruh itu, seperti tampak pada puisi "Beta Patti Rajawane”. “Mantera", dan "Lagu Gadis Itali". Bahkan, dalam puisi-puisi mutakhir kini, seperti karya Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, dan Hamid Jabbar unsur-unsur lama itu tampak sekali. Semua itu dapat membuktikan bahwa para penyair modern tidak membuang begitu saja warisan para pendahulunya, melainkan menjadikannya sebagai sarana, bahan pengalaman artistik dan estetik, serta titik tolak penciptaan puisinya. Dengan kata lain, mereka masih tetap mempertimbangkan tradisi para pendahulunya.

Uraian di atas menunjukkan kepada kita bahwa untuk sampai pada pemahaman puisi modern, kita dapat bertolak dari puisi lama. Demikian pula, untuk sampai pada penulisan puisi modern, kita dapat memulainya dengan menulis puisi lama. Jadi, tidaklah sia-sia kreativitas yang telah kita lakukan. Sekarang marilah kita mempersiapkan diri untuk membuat puisi modern. Namun, sebelum sampai pada proses kreatif penciptaan yang bersifat idividual, kita akan bersama-sama mencoaba untuk melatih imajinasi dan daya kreatif kita dengan mengikuti latihan berikut.

a) Mendeskripsikan Objek Konkret secara Emotif

Objek konkret yang kita inderai, seperti kucing peliharaan, bunga melati, gunung, laut, dan air terjun dapat menjadi bahan pokok puisi kita. Penyair Abdul Hadi W.M. (dalam Eneste, ed,. 1984) pernah berujar, "Saya paling suka menulis puisi jika hujan sedang turun, atau sambil melihat kolam air yang memantulkan bayang-bayang benda di atasnya atau langit". Jika penyair saja menyukai objek yang kasatmata sebagai ilham bagi puisi-puisinya, apalagi kita yang baru mau belajar. Cara yang mudah adalah dengan mendeskripsikan seluk-beluk objek tersebut. Akan tetapi, karena kita tengah berlatih menulis puisi, deskripsi kita hendaknya dibangun dengan menggunakan bahasa yang bersifat emotif. Misalnya, ketika tengadah ke langit malam hari, seseorang takjub pada ribuan bintang yang tertebar di atas langit. Kemudian, ia mendeskripsikannya melalui puisi berikut.

Bintang

kemerlap jauh di atas sana

tertebar di langit hitam

Bintang

bertebaran ribuan jumlah

berhamburan melimpah ruah

Bintang, bintang, bintang!

Kapan kau terhampar di tanah

agar manusia tak kehilangan arah.

1972

b) Mengurai Nama Diri

Nama adalah identitas pokok diri kita. Manusia dapat saling mengenal dan menyapa karena memiliki nama. Betapa kecewanya seseorang saat namanya tidak tercantum dalam daftar orang-orang yang berhak mengikuti ujian. Saat mendapatkan ratusan nama yang berhak mendapatkan hadiah undian sebuah produk sabun di sebuah surat kabar, tentu Anda tidak bergembira karena nama Anda tidak tercantum di dalamnya. Sebaliknya, Anda berteriak kegirangan manakala huruf A sejajar dengan nama Anda dalam sebuah daftar nilai ujian. Semua membuktikan bahwa kita sangat peduli dengan nama kita sendiri.

Kepedulian terhadap nama diri dapat dimanfaatkan untuk belajar menulis puisi. Caranya, yaitu dengan menderetkan nama kita secara vertikal. Misalnya, orang yang bernama Rizal dapat mengurai namanya seperti berikut

R

I

Z

A

L

Kemudian, kembangkanlah imajinasi dan kreativitas Anda untuk melanjutkan setiap inisial atau huruf awal tersebut. Yang paling mudah adalah menguraikan keadaan atau pengalaman diri sendiri. Anggap saja, misalnya Rizal adalah seorang remaja yang sedang melamun untuk sampai pada hari ulang tahunnya yang ketujuh belas. Ia menulis namanya di buku harian dengan mengurainya menjadi sebuah puisi.

Riangnya hati ketika datang suatu hari

ltulah ulang tahun yang telah lama dinanti

Zikir dan syukur kepada-Nya

Adalah tindakan yang paling utama

Lalu, aku undang semua teman dan saudara

c) Menulis Puisi Berdasarkan Tokoh dalam Sejarah, Mitologi, atau dalam Karya Sastra

Karya sastra, apakah cerpen, novel/roman, drama, atau puisi yang telah kita baca, dapat juga dijadikan media dalam belajar menulis puisi. Apabila Anda menyenangi tokoh tertentu dalam sebuah novel, Anda dapat saja menulis puisi berdasarkan tokoh tersebut. Puisi tersebut dapat merupakan suara tokoh tersebut (tokoh menjadi aku lirik), atau komentar kita mengenai tokoh tersebut. Selain karya sastra, tokoh dalam sejarah, wayang, atau mitologi dapat juga kita jadikan bahan penulisan puisi. Sebagian besar di antara kita tentu sudah mengetahui bahwa salah satu puisi Chairil Anwar yang berjudul "Diponegoro" atau puisi Amir Hamzah yang berjudul "Hang Tuah" bersumber dari mitos pahlawan. Perhatikanlah puisi berikut, yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Puisi tersebut bersumber dari cerita wayang, yaitu Arjuna Sasrabahu atau Sumantri Ngenger:

PESAN

Tolong sampaikan kepada abangku, Raden Sumantri, bahwa memang kebetulan jantungku tertembus anak panahnya. Kami saling mencintai, dan antara disengaja dan tidak disengaja sama sekali tidak ada pembatasnya.

Kalau kau bertemu dengannya, tolong sampaikan bahwa aku tidak menaruh dendam padanya, dan nanti apabila perang itu tiba, aku hanya akan....

d) Mengkonkretkan Puisi dengan Bantuan Gambar

Kadang-kadang orang yang memiliki bakat lebih dari satu seni tidak akan pernah puas ketika dia membuat sebuah karya seni. Ada sebagian penyair yang mengkonkretkan puisi dengan tambahan gambar atau membentuk tipografi puisi sesuai dengan keinginannya. Sebaliknya, ada juga pelukis yang menambahkan kata-kata ke dalam lukisannya, seperti yang terjadi pada Zaini atau Herry Dim. Untuk puisi, kita dapat menyebut Sutardji Calzoum Bachri sebagai salah seorang penyair puisi konkret. Kemudian, apa yang terbayang dalam benak kita ketika membaca puisi Akhudiat berikut ini:

( ( (plung) ) )

Puisi yang dikonkretkan melalui gambar, yang dikenal dengan puisi konkret, memang bukan hal yang baru. Di Amerika penyair E.E. Cummings pernah melakukannya, demikian pula penyair Appolonaire di Prancis. Apabila kita kini belajar menulis puisi konkret, tentu tujuannya bukan untuk membuat pembaharuan, melainkan untuk merangsang dan mengembangkan imajinasi. Hal ini dapat kita mulai, misalnya dengan membuat puisi tentang bunga, rumah, atau benda konkret lainnya, kemudian tipografi dan kaligrafinya kita susun sehingga serupa dengan objek yang kita jadikan bahan penulisan puisi.

e) Menulis Puisi Berdasarkan Pengalaman Diri

Kita sering kali mendengar kata-kata, " Orang dapat menulis puisi ketika sedang jatuh cinta", atau "Kesedihan akan berkurang apabila dituangkan melalui puisi". Kata-kata tersebut, meskipun belum tentu menghasilkan puisi yang bermutu dari segi estetik, dapat Anda manfaatkan sebagai bahan berlatih dalam menulis puisi. Terlebih-lebih, manusia sebagai makhluk hidup tidak akan luput dari pengalaman, baik yang menyedihkan maupun yang membahagiakan. Pengalaman itu tidak perlu Anda tunggu sampai datang karena Anda dapat menghadirkan kembali pengalaman yang telah lampau. Ketika Chairil Anwar ditinggal nenek yang dicintainya, ia sangat sedih. Namun, kesedihan itu ia konpensasikan menjadi kegiatan kreatif sehingga ia mampu menciptakan sajak berikut:

NISAN

untuk neneknda

bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta

Beberapa cara latihan di atas tampaknya masih umum sebab tujuannya sekedar merangsang imajinasi agar dapat berkreasi dengan menulis puisi. Namun, manfaatnya tak dapat diragukan sebab untuk belajar menulis puisi tidak ada jawaban lain, seperti kata Saini K.M., kecuali..."Tulis!"

b. Membacakan Puisi

Istilah "baca puisi" (poetry reading) sudah akrab di telinga kita. Untuk meluncurkan antologi puisinya, penyair sering kali mengadakan acara baca puisi sebelum kritikus mengulasnya. Acara hari-hari besar, seperti HUT RI, Hari Pahlawan, atau acara penarik simpati dan solidaritas terkadang juga diisi dengan baca puisi. Selain itu, acara khusus yang bersifat kompetisi pun sering kali diselenggarakan.

Akan tetapi, perdebatan acap kali muncul manakala baca puisi dikaitkan dengan istilah lainnya, yaitu "deklamasi". Kedua istilah itu ada yang membedakannya secara hitam putih sehingga muncul fenomena yang aneh: baca puisi adalah berdiri mematung dengan teks puisi di tangan serta berusaha tidak bergerak dan deklamasi adalah membaca puisi yang telah dihafal dengan tambahan gerak artifisial. Apakah pembedaan itu memang demikian?

Memang harus kita akui, pemahaman orang terhadap kedua istilah tersebut belumlah sama. Mursal Esten (1987) dan Erizal Gani (1989) menganggap deklamasi dan baca puisi merupakan fenomena seni yang berbeda.

Dalam membedakan kedua istilah itu, biasanya orang langsung menghubungkan dengan kiprah Rendra sepulang dari Amerika. Baca puisi, katanya, merupakan oleh-oleh Rendra dari Negeri Paman Sam, yang langsung menggilas tradisi deklamasi di tanah air. Padahal, Rendra sendiri tidak membedakan kedua istilah itu. Bahkan, di Barat pembedaan baca puisi tidak dihubungkan dengan, deklamasi, melainkan dikontraskan dengan puisi oral (oral poetry). Menurut Preminger (1974:967--970), baca puisi merupakan tradisi baru, yaitu tradisi masyarakat yang telah mengenal dunia baca-tulis atau keberaksaraan, sementara puisi oral sebaliknya, yaitu tradisi masyarakat yang masih berada dalam dunia keniraksaraan.

Dasar-Dasar dan Petunjuk dalam Membaca Puisi

Apabila kita menyaksikan orang membaca puisi, adegan itu sebenarnya hanya merupakan tahap akhir yang tampak ke permukaan. Kualitas tahap akhir ini bergantung pada tahap-tahap sebelumnya yang dapat kita sebut tahap dasar. Menurut Aritonang (1990), dasar-dasar baca puisi itu mencakup olah vokal, olah musikal, olah sukma, olah mimik, olah gerak, dan wawasan kesastraan. Apabila dasar-dasar ini telah kita kuasai, selanjutnya kita akan sampai pada proses pembacaan. Dalam proses pembacaan inilah kita berusaha mencapai kualitas baca puisi secara optimal. Hal itu dapat dimungkinkan apabila kita mengikuti tahap pembacaan sebagai berikut:

a. membaca dalam hati (agar puisi tersebut terapresiasi secara penuh);

b. membaca nyaring (agar pembaca dapat mengatur daya vokal, tempo, timbre, interpolasi, rima, irama, dan diksi),

c. membaca kritis (dengan mengoreksi pembacaan sebelumnya: segi-segi apa yang masih kurang dan bagaimana cara mengatasinya);

d. membaca puitis.

Untuk sampai pada pembacaan puisi yang kita idam-idamkan, yaitu membaca puitis, kita dapat juga mengikuti petunjuk yang disarankan oleh Mursal Esten (1987):

a. perhatikanlah judul puisi;

b. lihatlah kata-kata yang dominan;

c. selamilah makna konotatif;

d. dalam mencari dan menemukan makna, yang benar adalah makna yang sesuai dengan struktur bahasa;

e. tangkaplah pikiran yang ada dalam puisi dengan memparafrasekannya;

f. jawablah apa dan siapa yang dimaksud dengan kata ganti dan siapa yang mengucapkan kalimat yang diberi tanda kutip;

g. temukanlah pertalian makna tiap unit puisi (kata demi kata, frase demi frase, larik demi larik, dan bait demi bait);

h. carilah dan kejarlah makna yang masih tersembunyi;

i. perhatikanlah corak dan aliran sajak yang kita baca (imajis, religius, liris, atau epik?);

j. tafsiran kita terhadap puisi mesti dapat kita kembalikan kepada teks puisi itu sendiri.

Rampak Puisi

Istilah rampak puisi tampaknya hanya dikenal di daerah Jawa Barat sebab merupakan analogi dari rampak kendang. Barangkali istilah ini sepadan dengan istilah yang digunakan oleh Rusyana (1982), yaitu "paduan baca" puisi.

Rampak puisi dapat dianggap sebagai varian dari baca puisi sebab pembacanya masih mengandalkan teks puisi. Perbedaannya, apabila baca biasa dilakukan oleh seorang pembaca, rampak puisi lazimnya dilakukan oleh lebih dari satu orang. Selain itu, rampak puisi memiliki beberapa keuntungan. Misalnya, dalam membaca puisi epik atau naratif, pembaca puisi tunggal harus dapat membedakan narasi dan karakter tokoh, sedangkkan dalam rampak puisi,hal itu merupakan tugas bersama. Dalam membaca puisi, sebut saja, "Penangkapan Sukra" secara rampak, kita tinggal menyesuaikan para pembaca dengan karakter tokoh: siapa yang menjadi narator, Sukra, Putra Mahkota, perempuan yang menjerit, dan kelompok koor. Sebagian pembaca dapat juga bertugas memberi efek suara tertentu, seperti suara serigala, kuda, tombak yang dihentakkan, suara batin Sukra. atau suara keramaian orang.

Namun, satu hal yang perlu diperhatikan, rampak puisi tidak perlu memanfaatkan pentas secara optimal. Pembaca puisi hanya berusaha agar pembacaannya puitis dan agar tidak mengganggu pandangan penonton, para pembaca mestilah mengatur posisi bacanya sehingga "enak" dipandang.

Dramatisasi Puisi

Dalam Kamus lstilah Sastra (1986) suntingan Panuti Sudjiman disebutkan bahwa dramatisasi sepadan dengan istilah "dramaan". Batasan kedua istilah tersebut adalah pengalihan karya sastra, baik puisi, cerpen, dan lainnya menjadi drama. Dengan demikian, dramatisasi puisi dapat berarti "mendramakan puisi". Dalam hal ini, puisi mesti tunduk pada kaidah-kaidah drama. Misalnya, apabila dalam konvensi drama terdapat kramagung/teks samping/petunjuk pengarang dan wawancang/dialog/ cakapan, maka dalam dramatisasi puisi pun demikian. Pendeknya, jika kita akan menampilkan dramatisasi puisi di atas pentas, syarat utama yang harus kita lakukan adalah memahami terlebih dahulu konvensi drama pentas sehingga kita mesti menguasai penataan pentas (skeneri), blocking dan acting yang benar.

Dramatisasi puisi memang mesti bertolak dari puisi. Akan tetapi, agar puisi itu sesuai dengan kaidah pemanggungan, maka seyogianyalah apabila puisi tersebut ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam drama.

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi adalah menggubah puisi menjadi sebuah lagu. Dengan demikian, antara puisi dan musik harus memiliki keselarasan. Sepintas memang tidak terdapat perbedaan antara musikalisasi puisi dan lagu yang diiringi musik. Bukankah lagu juga bersumber dari lirik puisi? Syair atau lirik lagu biasanya dibuat setelah musik tercipta. Namun, dapat juga pemusik menciptakan musik dan lirik lagunya secara bersamaan. Bahkan, Ebiet G. Ade biasa membuat syair terlebih dahulu sebelum menyusun partitur musiknya. Meskipun demikian, tidak ada keharusan bagi pemusik untuk tunduk kepada lirik lagu. Jika perlu, untuk menyelaraskan lirik dengan musik dapat saja kita mengubah atau mengganti kata-kata syair tersebut. Dalam musikalisasi puisi tidaklah demikian. Hal itu disebabkan puisinya sudah tercipta dan merupakan salah satu bentuk seni, yaitu karya sastra. Dengan demikian, dalam musikalisasi, aransemen musik tidak boleh mengubah puisi. Puisi harus tetap utuh. Di sinilah kita dituntut untuk lebih kreatif karena dalam musikalisasi puisi yang ideal, aransemen musik mesti dapat menangkap karakter puisi yang digubah. Misalnya, puisi yang bersuasana muram dan sedih selayaknyalah apabila ditampilkan dalam nada dan irama musik yang bernuansa muram dan sedih pula.

Contoh konkret musikalisasi puisi sebenarnya sudah kita kenali. Misalnya, grup Bimbo pernah menyanyikan lagu "Salju" yang bersumber dari puisi Wing Karjo atau "Sajadah Panjang" yang bersumber dari puisi Taufik Ismail. Akan tetapi, grup Bimbo tidak pernah mengkhususkan diri pada musikalisasi puisi. Puisi-puisi yang mereka gubah barangkali karena dianggap sesuai dengan karakter musik mereka. Contoh yang sangat tepat untuk musikalisasi adalah album kaset Hujan Bulan Juni dan Hujan dalam Komposisi yang diproduksi oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kedua album ini memang khusus direkam untuk kepentingan musikalisasi puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Untuk kepentingan apresiasi puisi, memusikalisasi puisi dapat dijadikan kegiatan penguatan (reinforcement). Yang penting, Anda memiliki kepekaan rasa sehingga dapat menyelaraskan karakter musik dengan puisi yang kita pilih sebagai lirik lagunya. Kita pun tidak perlu terpaku pada musikalisasi puisi yang telah ada. Misalnya, apabila Anda mengadakan lomba musikalisasi puisi, materi lomba tidak perlu puisi yang sudah dimusikalisasi karena ini akan menimbulkan pemajalan daya kreativitas. Biarkanlah peserta lomba berkreativitas untuk memadukan karakter puisi dengan musik yang dimainkan. Alat musik pun tidak harus selamanya gitar, piano, biola, dan alat musik modern lainnya. Alat musik etnik, seperti rebana, rebab, kecapi, gamelan, gong, dan gendang dapat menghasilkan musikalisasi puisi yang eksotik dan ebih bernuansa warna lokal. Bukankah yang membuat menarik pementasan musikalisasi puisi kelompok Sanggar Matahari Jakarta dan Kiai Kanjeng-nya Emha Ainun Nadjib adalah musik etniknya juga? Kemudian, apabila kita hubungkan dengan karakter puisi Indonesia, bukankah unsur-unsur etnik atau warna lokal juga merupakan bagian senyawa yang tak terpisahkan?

3.2 Ekspresi Prosa

Menulis Prosa

Menulis buku harian merupakan upaya pembiasaan agar kita memiliki kompetensi keterampilan menulis. Awalnya mungkin kita hanya menulis catatan penting, seperti agenda kerja atau agenda kegiatan sehari-hari. Hal itu merupakan langkah awal yang baik. Kegiatan itu dapat kita lanjutkan dengan mencatat peristiwa penting, misalnya gempa bumi, tabrak lari, atau pencurian. Peristiwa tersebut dapat kita kembangkan dengan melibatkan imajinasi kita sehingga tokohnya diberi karakter tertentu, peristiwanya dijalin lebih memikat, dan latarnya dirinci secara detil. Apabila kegiatan ini masih dianggap sulit, kita dapat melakukan kegiatan menulis secara sederhana, yaitu menarasikan pengalaman yang telah kita lakukan dari bangun tidur hingga ketika akan tidur kembali.

Beberapa kegiatan yang telah kita lakukan dalam menulis puisi dapat kita manfaatkan juga untuk kepentingan menulis prosa, khususnya cerpen. Kegiatan yang dimaksud adalah mendeskripsikan objek konkret secara emotif dan menulis cerpen berdasarkan tokoh dalam sejarah, mitologi, atau karya sastra lainnya.

Para sastrawan acap kali menggunakan fakta cerita dalam sejarah atau mitologi sebagai teks dasar karyanya. Misalnya novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangun Wijaya memunculkan tokoh-tokoh nyata ketika zaman revolusi kemerdekaan, seperti Amir Syarifudin. Seno Gumira Ajidarma memunculkan tokoh-tokoh wayang dalam novel Kitab Omong Kosong, atau Hermawan Aksan memunculkan kembali tokoh Diah Pitaloka, Puteri Sunda yang menjadi martir dalam perang yang tidak seimbang antara Kerajaan Pajajaran dan Majapahit, yang dikenal dengan Perang Bubat. Mari kita perhatikan salah satu penggalan cerpen karya Putu Wijaya berjudul “Bisma”. Resi Bisma yang dalam mitologi pewayangan dihormati, disegani, dan dijunjung tinggi oleh pihak Kurawa dan Pandawa karena sebagai sesepuh Kerajaan Astina, dalam novel tersebut dimunculkan secara ganjil dan lucu.

Bisma bangkit dari tanah, udara dan air, yang melebur jasadnya setelah jutaan tahun yang lalu pralaya dalam perang Bharatayuda. Tubuhnya yang tinggi besar dan sedikit bungkuk karena tua tampak agung ditancap oleh ribuan panah. Mukanya yang dihiasi brewok dan cambang putih sudah kisut, akan tetapi masih tetap memancarkan sinar yang jernih. Resi yang telah memikul pengorbanan yang dahsyat itu tiba-tiba muncul di Pasar Senen.

Namun, satu hal yang perlu kita cermati, Hal yang dilakukan sastrawa bukanlah untuk menjiplak karya yang sudah ada, melainkan untuk mereaksi, menanggapi, atau melakukan dialog dengan karya-karya sebelumnya. Bahkan, cara ini menarik minat para pakar sastra sehingga memunculkan kajian sastra dengan menggunakan pendekatan resepsi sastra dan intertekstualitas.

Menulis prosa pun dapat kita lakukan dengan cara memperhatikan konvensi yang terdapat dalam sebuah karya prosa. Jika cara ini yang kita pilih, maka

Kita harus mempehatikan hal-hal berikut.

1) Tentukanlah tema cerpen berdasarkan persoalan yang Anda kuasai, kemudian konkretkan tema tersebut dengan judul yang menarik dan sesingkat mungkin, misalnya tidak lebih dari lima kata.

2) Sadarilah bahwa cerpen yang konvensional selain menyertakan judul dan pengarangnya harus juga dilengkapi aspek formal cerpen lainnya, yaitu adanya narasi dan dialog tokoh.

3) Kembangkanlah tema ke dalam unsur-unsur cerpen, seperti fakta cerita (alur, tokoh, dan latar), sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, dan gaya bahasa).

4) Padukanlah unsur-unsur cerpen dengan memperhatikan kaidah alur, yaitu peristiwa disusun secara logis dan kronologis, menghadirkan suspense ‘rasa ingin tahu’ membuat surprise ‘kejutan’ dan menjalin seluruh unsur cerpen sehingga tampak utuh.

Membacakan Prosa dan Paduan Baca Prosa

Ekspresi prosa biasanya dilakukan dengan membacakan cerpen atau dongeng, baik oleh sendiri maupun oleh beberapa orang yang disebut dengan paduan baca cerpen. Selain itu, ekspresi prosa dapat dilakukan dengan mendramatisasi cerpen.

Dalam membacakan cerpen, kita dapat juga mengikuti teknik seperti dalam membacakan puisi. Pertama, cerpen kita baca dalam hati. Langkah pertama ini bertujuan agar kita dapat mengakrabi cerpen sehingga maknanya dapat kita selami. Langkah kedua adalah dengan membacakan cerpen secara nyaring. Kita upayakan agar setiap kata dalam kalimat, setiap kalimat dalam paragraf, dan setiap paragraf dalam cerpen tersebut dapat kita hidupkan dengan alat artikulasi kita. Dalam langkah kedua ini kita dapat mencoba untuk mengucapkan narasi dan dialog-dialog cerpen sesuai dengan karakter masing-masing. Pembaca pun dapat berlanjut ke langkah yang ketiga, yaitu memperhatikan kapan intonasi ditekan, tempo diperlambat atau dipercepat, volume suara diperkecil atau diperbesar, dan nada direndahkan atau ditinggikan. Agar pembacaan tidak berubah-ubah, pembaca dapat menandai bagian-bagian yang mendapat penekanan tersebut dengan menggunakan alat tulis, misalnya tinta warna dan penggaris. Dengan demikian, pembacaan cerpen dapat diulang-ulang hingga sampai pada langkah yang keempat, yaitu pembacaan cerpen yang estetis. Namun, tentu saja untuk sampai pada pembacaan cerpen yang estetis diperlukan latihan berulang-ulang. Oleh sebab itu, membaca kritis harus dilakukan, misalnya kita tidak perlu ragu untuk meralat atau merevisi bagian-bagian yang sudah kita tandai.

Hal serupa dengan langkah membacakan cerpen dapat juga kita lakukan dalam paduan baca cerpen, namun dengan pembagian tugas yang jelas. Misalnya, siapa yang akan menjadi narator dan siapa yang akan menjadi tokoh-tokoh dalam cerpen.

Mendongeng dan Mendramatisasi Prosa

Mendongeng atau bercerita dapat menjadi kegiatan ekspresi prosa yang mengasyikkan sebab juru dongeng biasanya bertutur tanpa teks sehingga ia pun dapat memanfaatkan raut muka, gerak-gerik, dan anggota tubuhnya untuk memperkuat karakter tokoh-tokoh dongeng. Bahan dongeng dapat berupa cerita rakyat, seperti mite, legenda, fabel, dan cerita jenaka.

Apabila juru dongeng atau pendongeng di daerah nusantara bercerita dengan bahasa daerah dan khazanah daerah masing masing, maka kita dapat memanfaatkan cerita rakyat se-Nusantara yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia sehingga sastra-sastra daerah itu dapat dikenal lebih luas dalam skala nasional.

Apabila mendongeng dilakukan secara perseorangan, dramatisasi prosa dapat dilakukan secara berkelompok. Seperti halnya dramatisasi puisi, dramatisasi prosa pun harus mengikuti kaidah-kaidah yang terdapat dalam drama. Misalnya, apabila kita akan mendramatisasi cerpen atau cerita rakyat, kedua karya itu harus dialihkan terlebih dahulu ke dalam naskah drama. Misalnya, narasi cerpen diubah menjadi petunjuk pemanggungan sehingga yang dialog tokoh-tokohnya tampak menonjol. Berikut ini akan dikutip sebuah penggalan teks cerpen, kemudian dialihkan ke dalam teks drama.

Penjaga kuburan mendekatinya dan bertanya, ''Kenapa Nenek menangis ?” Diangkatnya kepalanya pelan-pelan, dipandangnya penjaga kuburan itu agak lama, dan suaranya yang gemetar dan tua itu berkata, "Kalaulah cucuku dapat bertanya seperti engkau itu.” Dia berhenti sebentar, dihapusnya air matanya. "Engkau sendiri bekerja di sini ?” tanyanya kemudian.

“Ya."

“Sepantasnya engkau masuk surga, Nak”

Kemudian penjaga kuburan itu duduk di semen kuburan itu dan Nenek itu berkata, “Kuburan-kuburan disini bersih. Kalau saya nanti dikuburkan di sini, kau bersihkanlah kuburanku balk-baik, Nak."

“Nenek begini segar. Nenek masih lama lagi akan hidup.” Kata penjaga kuburan itu.

“Benar, saya masih akan lama hidup ?”

“Benar Nek.”

(Motinggo Boesje dalam Hoerip, 1979c: 136)

PANGGUNG MENYERUPAI TEMPAT PERKUBURAN. TAMPAK DI SEBUAH NISAN SEORANG NENEK SEDANG DUDUK, MENUNDUK, DAN MERENUNGI BATU NISAN ITU. PENJAGA KUBURAN MENDEKATI NENEK

PENJAGA KUBURAN: Kenapa Nenek menangis ?

NENEK: (memandang penjaga kuburan, suaranya gemetar) Kalaulah

cucuku dapat bertanya seperti engkau itu. (menghapus air

mata)Engkau sendiri bekerja di sini?

PENJAGA KUBURAN: Ya.

NENEK : Sepantasnya engkau masuk surga, Nak!(penjaga kuburan

duduk di semen kuburan dekan Nenek) Kuburan-kuburan

disini bersih. Kalau saya nanti dikuburkan di sini, kau

bersihkanlah kuburanku baik-baik, Nak.

PENJAGA KUBURAN: Nenek begini segar. Nenek masih lama lagi akan hidup.

NENEK : Benar, saya masih akan lama hidup ?

PENJAGA KUBURAN : Benar, Nek.

3.3 Ekspresi Drama

Beberapa Pelatihan Menulis Naskah Drama

Dengan pengetahuan mengenai konvensi drama dan dengan ditambah keberanian, kita dapat memulai untuk menulis drama. Berikut ini merupakan pelatihan praktis yang dimodifikasi dari Moody (1971: 88), yaitu (1) menggali nilai-nila dramatik (dari drama yang sudah ada), (2) menulis dialog imajiner, dan (3) menciptakan situasi dramatik dari berbagai sumber.

a. Mengadaptasi, Menyadur, dan Memvisualisasi Drama yang sudah Ada

Drama yang tersedia di perpustakaan, di toko-toko buku, atau yang dijadikan bahan kurikulum di sekolah lebih banyak yang "enak" untuk dibaca daripada dipentaskan. Hal itu disebabkan tidak semua pengarang drama mengetahui seluk-beluk teater atau pemanggungan, meskipun ketika mereka menulis drama, benaknya pasti berusaha untuk memvisualisasi panggung. Keadaan ini mengakibatkan pihak yang akan mementaskan drama, misalnya sutradara, perlu menyunting terlebih dahulu naskah drama yang akan dipentaskan. Selain itu, antara drama sebagai karya sastra di satu pihak dan teater di lain pihak merupakan bentuk seni yang memiliki kekhasan masing­-nasing. Dalam teater, naskah drama hanyalah salah satu unsur teater sehingga kretaivitas sutradara lebih penting daripada otonomi pengarang drama.

Anggap saja bahwa Anda adalah seorang sutradara yang akan mewujudkan sebuah naskah drama ke dalam seni pertunjukan. Ada dua buah naskah drama yang menarik Anda, akan tetapi terdapat dua masalah yang belum terpecahkan. Naskah pertama merupakan naskah terjemahan dari bahasa asing sehingga belum kontekstual. Naskah kedua sedikit sekali mencantumkan kramagung atau petunjuk pentasnya sehingga miskin dengan imajinasi visual. Bagaimana cara memecahkan masalah ini? Agar kontekstual, naskah pertama dapat Anda adaptasi atau Anda sadur sesuai dengan konteks zaman dan tempat yang Anda inginkan dan naskah kedua dapat dikonkretkan dengan lebih memperjelas kramagungnya. Contoh pertama telah kita singgung pada saat membicarakan Rendra dengan drama Perampok-nya, sedangkan cohtoh kedua sering kali dilakukan oleh sutradara dalam proses produksinya, yaitu dengan lebih mengkonkretkan naskah drama dengan floo-rplan (penggambaran arah gerak pemain) dan promp-tbook (naskah yang sudah disunting sesuai dengan keperluan pementasan).

b. Membuat Dialog Imajiner

Latihan menulis pun dapat Anda lakukan dengan membuat dialog imajiner berdasarkan situasi dramatik yang sangat Anda kenal. Misalnya, Anda membuat dialog antara dua pihak yang memiliki masalah atau konsep yang bertentangan: para buruh dengan majikannya, para pemburu dengan pencinta lingkungan hidup, para pedagang kakilima dengan petugas Tibum atau Satpol P.P., atau dapat juga kita memecahkan persoalan yang di tinjau dari dua sudut yang berbeda. Di media massa kadang-kadang terdapat rubrik yang berisi wawancara imajiner dengan tokoh-tokoh yang sudah meninggal, misalnya wawancara imajiner Christianto Wibisono dengan Bung Karno. Wawancara itu dibuat karena pengarang (pewawancara) sangat mengenal subjek yang dibicarakan. Dia tahu betul siapa Bung Karno, apa gagasan dan filsafatnya.

c. Mendramakan berbagai Sumber yang Mengandung Peristiwa Dramatik

Zaman kita kini adalah zaman informasi. Apabila peristiwa kecil dan remeh dapat menarik karena dikemas secara apik dalam pemberitaannya, bagaimana dengan peristiwa besar, seperti jatuhnya pesawat terbang, kudeta berdarah, gempa bumi, dan meningganya kepala negara? Peristiwa-peristiwa seperti itu tentu dapat Anda jadikan bahan penulisan drama. Dengan catatan, Anda mesti mampu melihat atau menemukan peristiwa dramatik di dalamnya. Misalnya, apabila Anda membaca berita mengenai jatuhnya pesawat terbang Adam Airi atau Garuda, peristiwa dramatik dapat Anda buat dengan membayangkan bahwa Anda adalah bagian dari penumpang yang selamat, atau ketika Anda membaca berita terhentinya pertandingan sepak bola karena ulah penonton yang berlaku anarki, Anda membayangkan bahwa Andalah trouble maker-nya sehingga khawatir, cemas, dan takut berkecamuk di dalam dada.

Sumber pencarian peristiwa dramatik, tentunya tidak hanya berita dalam surat kabar, majalah, atau televisi, namun segala sumber yang menarik Anda dan dipandang sebagai potensi dalam memunculkan peristiwa dramatik. Misalnya, esai, pledoi pengadilan, bahkan profil seorang tokoh dapat mengandung peristiwa dramatik, terlebih-lebih jika orientasi kita pada pertunjukkan di atas panggung. Sebagai bukti, kelompok teater di Jakarta, yaitu Teater SAE pernah menampilkan drama berjudul Pertumbuhan di Meja Makan, yang naskahnya bersumber dari berbagai tulisan di surat kabar; Wellem Pattirajawane, seorang aktor dari Teater Kecil, pernah menampilkan monolog yang bersumber dari buku Indonesia Menggugat karangan Bung Karno, Atau Adi Kurdi, aktor dari Bengkel Teater Rendra, pernah menampilkan monolog yang bersumber dari profil dan keberanian Adi Andojo sebagai hakim agung muda.

Namun, kita harus kembali pada tujuan semula, yaitu berlatih menulis drama. Oleh sebab itu, segala bahan yang dipilih dibaktikan agar Anda terampil menulis drama, misalnya dengan mengemas bahan itu secara apik ke dalam dialog dan kramagung, yang kemudian ditata kembali dalam adegan demi adegan serta babak.

Memainkan Drama

Untuk sampai pada puncak pementasan drama, setidaknya ada dua tahap yang harus dilalui, yaitu tahap persiapan dan tahap pelatihan.

Tahap Persiapan

a. Memilih Naskah Drama

Pemilihan naskah drama untuk pementasan bergantung kepada keperluan, namun hendaknya harus dipertimbangkan dari berbagai segi. Untuk kepentingan hari besar Islam, misalnya Anda dapat mementaskan drama Masyitoh karya Ajip Rosidi, Iblis karya Mumammad Diponegoro, atau Ashabul Kahfi karya Godi Suwarna. Dalam merayakan Hari Kemerdekaan, Anda dapat memilih drama Nyaris karya N. Riantiarno, Domba-Domba Revolusi karya B. Soelarto, atau Fajar Sidik karya Emil Sanosa. Akan tetapi, pemilihan itu pun mesti disesuaikan dengan kondisi yang ada. Katakanlah, Anda telah sepakat untuk mementaskan drama Masyitoh. Kesepakatan itu sebaiknya berdasarkan pertimbangan bahwa para pemainnya siap berlatih, waktu mencukupi, dana tersedia, dan calon penonton, berdasarkan pengamatan secara umum, akan sangat antusias.

b. Mendapatkan Izin Penulis

Setiap karya yang diterbitkan biasanya dilindungi oleh undang-undang. Apabila Anda melanggarnya, maka sama saja dengan melanggar hak cipta orang lain. Oleh sebab itu, agar tidak mendapatkan sanksi-sanksi di kemudian hari, alangkah arifnya jika kita mengusahakan izin dari pengarangnya, baik secara tertulis maupun lisan. Drama-drama yang dibuat untuk kepentingan latihan, misalnya sebagai pelengkap atau lampiran dalam buku teks atau yang ditampilkan secara amatir di kelas tidaklah pelu mendapat izin. Akan tetapi, drama untuk kepentingan pentas yang sifatnya komersial sudah selayaknya dilengkapi dengan izin pengarang atau penerbit yang mewakilinya.

c. Memilih Sutradara

Menurut Suyatna Anirun (1987:33-35), sutradara pada hakikatnya adalah seorang seniman, diplomat, organisator, dan seorang guru, yang berfungsi sebagai seniman kreatif dan pencipta kondisi kerja teater.

Sebagai seniman kreatif, sutradara berfungsi sebagai penafsir utama naskah, bertanggung jawab pada penyelesaian bentuk, meramalkan semua kondisi, menguasai serta mampu menerapkan prinsip-prinsip estetis, seperti masalah ruang dan bentuk, jarak estetik, dan psikologi apresiasi. Sebagai pencipta kondisi kerja teater, ia pun bertugas untuk mengkoordinasikan kerja ensambel (bersama), membantu pemain mewujudkan perannya, dan membantu atau bekerja sama dengan pekerja lainnya, misalnya penata artisitik. Untuk mengkonkretkan konsep artistiknya, sutradara hendaknya membuat ploor-plane yang merupakan rencana pentas (gambar dari proyeksi skeneri); mengalihkan naskah menjadi prompt-book, yaitu buku kerja, yang selain sebagai naskah suntingan berfungsi pula untuk mencatat dan merevisi segala kegiatan selama proses latihan; mengkonkretkan setting, properties, rias, busana, musik, tata suara, dan efek khusus.

d. Mempelajari atau Menganalisis Naskah

Sebenarnya, tugas mempelajari dan menganalisis naskah adalah tugas utama sutradara. Akan tetapi, agar para pemain dan pekerja panggung lainnya dapat bekerja sama demi keberhasilan pementasan, maka semua pihak dapat memberikan andil dalam mengutuhkan penafsiran naskah di atas panggung.

Sehubungan dengan menganalisis naskah, Anda dapat saja kembali pada bagian sebelumnya pada saat kita berbicara tentang konvensi dan kaidah umum drama. Misalnya, Anda memahami kembali prinsip alur dan struktur drama menurut Aristoteles. Drama konvensional biasanya dapat ditelaah dengan menggunakan prinsip Aristoteles, yaitu dengan menemukan bagian eksposisi, konflikasi, klimaks, resolusi, dan konklusi.

Apabila prinsip Aristoteles sulit diterapkan dalam drama yang akan dipentaskan, Anda dapat saja menggunakan teori lain. Saini K.M., misalnya, menawarkan teori atau teknik analis dengan memperlakukan naskah sebagai "pola peristiwa" (pattern of events). Menurut teori ini, naskah drama dapat dikelompokkan ke dalam empat pola peristiwa, yaitu (1) pola perubahan, (2) pola belajar, (3) pola kejayaan dan kejatuhan, dan (4) pola perjuangan melawan kejahatan.

Dalam pola perubahan, tokoh utama mengalami perubahan baik dalam status, keadaan, maupun nasibnya. Misalnya, dalam drama Yunanai yang terkenal karya Sophocles, Tokoh Oeidiphus yang pada awalnya merupakan seorang raja yang gagah dan terhormat berubah menjadi seorang buta yang terhina. Dalam pola belajar, tokoh utama mengalami proses belajar dari kondisi tidak tahu, tidak bijaksana dan keliru menuju ke keadaan yang sebaliknya. Dalam pola kejayaan dan kejatuhan, misalnya tampak pada drama Ken Arok karya Saini K.M. sendiri. Ken Arok yang berjaya dengan membunuh Tunggul Ametung dan mengawini Ken Dedes akhirnya mesti jatuh tersungkur karena keris Empu Gandring yang ditusukkan oleh putera Tunggul Ametung. Terakhir, pola perjuangan melawan kejahatan merupakan pola yang sangat populer dan mudah Anda temukan sebab masalah yang diusungnya sangat kontras sehingga ibarat membedakan warna hitam dan putuh. Dengan apa pola peristiwa terwujud? Untuk menjawabnya, Anda tinggal mengingat bahwa hakikat drama adalah konflik. Karena konflik yang melibatkan tokoh utama itulah, pola-pola peristiwa muncul, yang kemudian harus Anda temukan dalam naskah yang Anda analisis.

Tahap Pelatihan atau Proses Produksi

Hal-hal yang harus Anda perhatikan pada tahap proses produksi adalah sebagai berikut.

a. Mencari bentuk

Pencarian bentuk dilakukan dengan menganalisis naskah drama, membacanya bersama sehingga dapat memilih peran yang tepat, mewujudkan naskah dalam gerak (blocking), dan menguasai/menundukkan naskah dan ruang. Di sinilah sutradara memfungsikan ploor-plane (gambar berupa rencana pentas) dan prompt-book-nya (naskah drama yang sudah disunting untuk kepentingan pelatihan) secara optimal. Bagaimana ia mengatur blocking para pemain sehingga sampai pada blocking yang tepat. Karena revisi terus dilakukan, sutradara tidak perlu membuat floo-rplane yang baku. la dapat saja menghapus arah jalan atau keluar-masuk pemain yang telah ditulisnya di atas floor-plane untuk sampai pada bentuk yang diinginkan. Demikian pula dengan promt-book. Agar sutradara dan pemain leluasa menggunakan prompt-book, sebaiknya buku kerja itu dibuat ke dalam ukuran folio sehingga dapat memuat catatan-catatan yang diperlukan selama pelatihan berlangsung.

b. Pengembangan

Pengembangan permainan dilakukan dengan memberi isi, mengem­bangkan, dan membangun klimaks. Tentu saja semua dilakukan setelah Anda mengikuti pelatihan dasar drama, seperti berlatih konsentrasi, imajinasi, emosi, olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa atau sukma. Di bawah ini akan diuraikan panduan yang dibuat oleh Rendra (1982) dalam Tentang Bermain Drama atau Suyatna Anirun (1979) dalam Teknik Pemeranan. Secara ringkas, panduan tersebut adalah sebagai berkut:

(1) teknik muncul: dilakukan agar kita dapat memberikan kesan pertama kepada penonton secara meyakinkan;

(2) teknik memberi isi: dilakukan agar kita dapat mengisi kalimat sesuai dengan tuntutan drama yang dipentaskan, yaitu dengan memberikan tekanan dinamik, nada, dan tempo secara tepat;

(3) teknik pengembangan vokal dan tubuh: dilakukan agar permainan kita tidak datar, tetapi memikat penonton. Pengembangan vokal atau pengucapan dilakukan dengan menaikkan atau menurunkan volume, tinggi nada, kecepatan tempo suara, sedangkan pengembangan tubuh dapat dilakukan dengan menaikkan/menurunkan tingkatan posisi jasmani, berpaling, berpindah tempat, menggerakkan anggota badan, dan mimik;

(4) teknik membina puncak dan membangun klimaks: dilakukan agar kita dapat menahan tingkatan perkembangan sebelumnya (disebut juga dengan teknik menahan), yaitu dengan menahan intensitas emosi, menahan reaksi terhadap perkembangan alur, teknik gabungan, teknik permainan bersama, dan teknik penempatan pemain;

(5) teknik menonjolkan: dilakukan agar kita dapat menonjolkan hasil penafsiran, terutama dengan teknik dinamika visual yang bersumber dari pengembangan jasmani;

(6) teknik timing atu ketepatan waktu: dilakukan agar hubungan waktu antara gerakan jasmani dan dialog kita berjalan dengan tepat, yaitu dengan melakukan gerakan sebelum, seiring, atau sesudah kata-kata diucapkan;

(7) teknik menakar bobot permainan: dilakukan agar kita bermain secara proporsional;

(8) teknik mengatur waktu, irama, tempo, dan jarak langkah: dilakukan agar permainan tidak kedodoran

c. Pemantapan

Dalam proses pemantapan, sutradara harus melakukan koordinasi dan mengatur tempo serta irama permainan sehingga tampak tidak kedodoran. Hafal naskah dan blocking belum tentu menghasilkan permainan yang penuh "greget" dan penuh atmosfer hidup. Oleh sebab itu, sutradara mesti peka dan mempertajam intuisi dan daya kritisnya sehingga permainan yang mantap dapat dihasilkan.

d. Pelatihan umum

Pelatihan umum dilakukan manakala sutradara menganggap naskah yang sedang digarapnya itu telah layak pentas. Oleh sebab itu, pada latihan umum ini para pemain harus tampil utuh laiknya bermain di hadapan para penonton.

e. Pergelaran

Pergelaran atau pementasan merupakan puncak dari pelatihan yang kita lakukan. Keberhasilan pergelaran sangat bergantung kepada kerja sama serta kesolidan di antara para pendukungnya. Masalah utama yang dihadapi sutradara dan pekerja lainnya adalah menghayati dan mengkomunikasikan naskah yang diusungnya secara artistik. Dengan kata lain, kita harus dapat mengatasi bagaimana agar naskah sebagai medium verbal sastrawan dapat diterjemahkan, bahkan diperkuat daya ungkapnya dengan media audio (bunyi vokal dan musik), visual (bentuk, warna, dan cahaya), dan kinetik (gerak) sehingga penonton dapat menyerap nilai-nilai pengalaman, baik yang bersifat umum maupun estetik.

Agar sebuah produksi pergelaran terkelola secara rapi dan proporsional, kita dapat saja menggabungkan para pekerja drama dalam sebuah organisasi. Misalnya, apabila organisasi itu independen, maka bagannya dapat disusun seperti berikut, sesuai dengan tawaran dari Taylor (1988:20):



Text Box: Pimpinan Teknik



Text Box: Teknisi Lampu



BAB IV

RANGKUMAN

Sastra bukanlah seni bahasa belaka, melainkan suatu kecakapan dalam menggunakan bahasa yang berbentuk dan bernilai sastra. Jelasnya faktor yang menentukan adalah kenyataan bahwa sastra menggunakan bahasa sebagai medianya. Berkaitan dengan maksud tersebut, sastra selalu bersinggungan dengan pengalaman manusia yang lebih luas daripada yang bersifat estetik saja. Sastra selalu melibatkan pikiran pada kehidupan sosial, moral, psikologi, dan agama. Berbagai segi kehidupan dapat diungkapkan dalam karya sastra.

Periodisasi sastra adalah penggolongan sastra berdasarkan pembabakan waktu dari awal kemunculan sampai dengan perkembangannya. Periodisasi sastra, selain berdasarkan tahun kemunculan, juga berdasarkan ciri-ciri sastra yang dikaitkan dengan situasi sosial, serta pandangan dan pemikiran pengarang terhadap masalah yang dijadikan objek karya kreatifnya.

Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra. Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.

Pada prinsipnya, aliran sastra dibedakan menjadi dua bagian besar, yakni (1) idealisme, dan (2) materialisme. Idealisme adalah aliran romantik yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi menjadi (a) romantisisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, dan (d) surealisme

Karya sastra menurut jenisnya terbagi atas puisi, prosa, dan drama. Pembagian tersebut semata-mata didasarkan atas perbedaan bentuk fisiknya saja, bukan substansinya. Substansi karya sastra apa pun bentuknya tetap sama, yakni pengalaman kemanusiaan dalam segala wujud dan dimensinya. Pengenalan terhadap ciri-ciri bentuk sastra ini memudahkan proses pemahaman terhadap maknanya. Demikian pula komponen–komponen yang turut membangun karya sastra tersebut. Berikut ini dipaparkan ketiga bentuk karya sastra tersebut.

Ada beberapa prinsip dalam pelaksanaan pembelajaran apresiasi sastra. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut. (1) Pembelajaran sastra berfungsi untuk meningkatkan kepekaan rasa pada budaya bangsa. (2) Pembelajaran sastra memberikan kepuasan batin dan pengayaan daya estetis melalui bahasa. (3) Pembelajaran apresiasi sastra bukan pelajaran sejarah, aliran, dan teori sastra. (4) Pembelajaran apresiasi sastra adalah pembelajaran untuk memahami nilai kemanusiaan di dalam karya yang dapat dikaitkan dengan nilai kemanusiaan di dalam dunia nyata.

Adapun tujuan pembelajaran sastra dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: (1) dilihat secara umum, dan (2) dilihat dari kurikulum yang digunakan di sekolah. Secara umum, tujuan pembelajaran sastra adalah agar siswa: (a) memperoleh pengalaman bersastra, dan (b) memperoleh pengetahuan sastra.

Tujuan untuk memperoleh pengalaman bersastra dimaksudkan agar siswa memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi sastra. Pengalaman tersebut dilakukan siswa dengan membaca hasil karya sastra, mendengarkan pembacaan karya sastra, menonton pementasan sastra. Jadi dalam hal ini siswa siswa mampu berekspresi sastra melalui pengekspresian karya sastra. Kegiatan pengekspresian tersebut dapat dilakukan dengan cara: menulis (puisi, cerpen, dialog), berdeklamasi, mementaskan drama, dll. Selain itu juga bisa dilakukan dengan menulis surat kepada penulis hasil karya sastra tersebut. Hasil kreasi atau karya sastra dapat dipakai sebagai media dalam pembelajaran apresiasi sastra.

Ekspresi sastra adalah kegiatan kreatif yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik, baik secara tertulis maupun secara lisan. Kegiatan ekspresi sastra secara tertulis yang dapat kita lakukan adalah menulis karya sastra, seperti menulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Sementara itu, kegiatan ekspresi sastra secara lisan, bahkan ragawi atau kinestetik adalah membaca puisi, rampak puisi, musikalisasi puisi, dramatisasi puisi, membaca cerpen, paduan baca cerpen, dramatisasi cerpen, mendongeng dengan bahan cerita rakyat, dan memainkan atau mementaskan naskah drama.

Dalam kegiatan ekspresi sastra secara tertulis, kita dapat memanfaatkan pengalaman yang kita alami sendiri. Sebagai langkah awal, pengalaman tersebut dapat kita tuangkan ke dalam buku harian. Cara lain adalah dengan menarasikan sepenggal kehidupan kita, mendeskripsikan pengalaman secara emotif, atau melibatkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam sejarah, mitologi atau karya sastra lainnya. Hal terakhir dilakukan bukan untuk menjiplak karya yang sudah ada, bahkan banyak sastrawan yang melakukannya untuk mereaksi, menanggapi, atau melakukan dialog dengan karya-karya sebelumnya, yang dalam ilmu sastra dapat dijadikan bahan kajian resepsi sastra dan intertekstualitas.

Dalam kegiatan ekspresi sastra secara lisan, kita dapat memanfaatkan dasar-dasar bermain drama sebagai sarana untuk meningkatkan peralatan suara dan anggota tubuh kita hingga mampu membaca puisi dan cerpen dan terampil dalam memainkan sebuah naskah drama. Namun, sebelum berlatih dasar-dasar drama, kita dapat meningkatkan daya apresiasi dan ekspresi kita secara optimal dengan empat teknik membaca, yaitu membaca dalam hati, membaca nyaring, membaca kritis, dan mudah-mudahan akhirnya kita sampai pada tujuan yang kita cita-citakan, yaitu mampu membaca karya sastra secara puitis dan estetis.

BAB V

PENILAIAN

5.1 Soal Latihan

Untuk memantapkan pemahaman Anda terhadap materi bahan ajar kesusastraan, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!

1. Jelaskan pengertian sastra!

2. Sebutkan periodisasi sastra menurut H.B. Jassin!

3. Jelaskan pengertian aliran romantik idealisme dan berilah contoh karya sastra yang dipengaruhi aliran tersebut!

4. Sebutkan dan jelaskan genre sastra Indonesia!

5. Jelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen!

6. Jelaskan fungsi bahasa dalam karya sastra!

7. Jelaskan karakteristik drama!

8. Tulislah sebuah puisi dengan tema bebas, yang bersumber dari peristiwa menyedihkan atau menyenangkan yang pernah Anda alami!

9. Tulislah sebuah cerpen dengan tema bebas, yang melibatkan tokoh-tokoh yang pernah Anda kenal, baik dalam sejarah, karya sastra, maupun dalam kehidupan sehari-hari!

10. Tulislah sebuah naskah drama pendek dengan tema bebas, yang bersumber dari cerpen, legenda, atau film yang pernah Anda tonton!

5. 2 Kunci Jawaban

  1. Sastra adalah bentuk seni yang dilahirkan dari keindahan penggunaan bahasa, keaslian gagasan yang diungkapkan, dan kedalaman pesan yang disampaikan baik secara lisan maupun tertulis.

2. Periodisasi sastra menurut H.B. Jassin. H.B.Jassin mengelompokkan sastra Indonesia atas dua periode, yaitu:

a) periode sastra Melayu Lama

b) periode sastra Indonesia Modern. yang terdiri atas empat angkatan, yaitu (1) Angkatan Balai Pustaka;

(1) Angkatan Pujangga Baru;

(2) Angkatan ’45;

(3) Angkatan ’66.

  1. Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angkatan . Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sementara romantik realisme mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi Chairil Anwar dan Asrul Sani).
  2. Tiga genre sastra Indonesia, yaitu puisi, prosa, dan drama. Puisi adalah

Puisi adalah karya sastra yang khas penggunaan bahasanya dan memuat pengalaman yang disusun secara khas pula. Pengalaman batin yang terkandung dalam puisi disusun dari peristiwa yang telah diberi makna dan ditafsirkan secara estetik.

Prosa merupakan jenis karya sastra dengan ciri-ciri antara lain (1) bentuknya yang bersifat penguraian, (2) adanya satuan-satuan makna dalam wujud alinea-alinea, dan (3) penggunaan bahasa yang cenderung longgar. Bentuk ini merupakan rangkaian peristiwa imajinatif yang diperankan oleh pelaku-pelaku cerita, dengan latar dan tahapan tertentu yang sering disebut dengan cerita rekaan. Bentuk ini terbagi atas kategori cerita pendek, novelet, dan novel.

Drama adalah Karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog para tokohnya berisi cerita atau tiruan perilaku manusia dengan tujuan untuk dipentaskan.

5. Unsur-unsur intrinsik cerpen adalah tema, tokoh/ penokohan, alur, latar, sudut pandang, amanat, dan gaya bahasa.

6. Fungsi bahasa dalam karya sastra adalah sebagai berikut.

Fungsi emotif mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan, membentuk dan mengekspresikan gagasan, perasaan, pendapat, dan sikap penyair.

Fungsi referensial mengacu pada fungsi bahasa untuk menggambarkan objek, peristiwa, benda ataupun kenyataan tertentu sejalan dengan gagasan, perasaan, pendapat, dan sikap yang kita sampaikan.

Fungsi puitik yakni fungsi bahasa untuk menggambarkan makna sebagaimana terdapat dalam lambang kebahasaan itu sendiri.

Fungsi fatis, mengacu pada konsepsi bahwa bentuk kebahasaan yang digunakan dalam komunikasi juga bisa digunakan untuk fungsi mempertahankan hubungan guna menciptakan kesan keakraban ataupun menciptakan bentuk-bentuk hubungan tertentu.

Fungsi konatif berisi konsepsi bahwa peristiwa bahasa dalam komunikasi berfungsi menimbulkan efek, imbauan, ataupun dorongan tertentu penanggapnya.

7.Karakteristik karya sastra drama adalah:

    1. Drama memiliki dua aspek esensial, yaitu aspek cerita dan aspek pementasan;
    2. Drama memiliki tiga dimensi, yaitu sastra, ujaran, dan gerak.

Rubrik penilaian (untuk soal no. 8, 9, dan 10)

Soal nomor 8 (menulis puisi) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut:

Aspek

Kriteria dan Skor

25

20

15

10

Kelengkapan aspek formal cerpen

Memuat

1) judul

2) nama pengarang

3) dialog

4) narasi

Hanya memuat tiga subaspek

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Kelengkapan unsur intrinsik cerpen

Memuat

1) fakta cerita (plot, tokoh, dan latar)

2) sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, gaya bahasa, simbolisme, dan ironi),

3) pengembangan tema yang relevan dengan judul

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap (misalnya, fakta cerita hanya memuat plot dan tokoh, tanpa disertai latar yang jelas)

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek



Keterpaduan unsur/struktur cerpen

Struktur disusun dengan memperhatikan

1) kaidah plot (kelogisan, rasa ingin tahu, kejutan, dan keutuhan) dan penahapan plot (awal, tengah, akhir)

2) dimensi tokoh (fisiologis, psiklogis, dan sosiologis

3) dimensi latar (tempat, waktu dan sosial)

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen

Menggunakan

1) kaidah EYD

2) keajekan penulisan

3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi

tokoh dan latar

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Soal nomor 9 (menulis cerpen) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut:

Aspek

Kriteria dan Skor

25

20

15

10

Kelengkapan aspek formal cerpen

Memuat

1) judul

2) nama pengarang

3) dialog

4) narasi

Hanya memuat tiga subaspek

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Kelengkapan unsur intrinsik cerpen

Memuat

1) fakta cerita (plot, tokoh, dan latar)

2) sarana cerita (sudut pandang, penceritaan, gaya bahasa, simbolisme, dan ironi),

3) pengembangan tema yang relevan dengan judul

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap (misalnya, fakta cerita hanya memuat plot dan tokoh, tanpa disertai latar yang jelas)

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Keterpaduan unsur/struktur cerpen

Struktur disusun dengan memperhatikan

1) kaidah plot (kelogisan, rasa ingin tahu, kejutan, dan keutuhan) dan penahapan plot (awal, tengah, akhir)

2) dimensi tokoh (fisiologis, psiklogis, dan sosiologis

3) dimensi latar (tempat, waktu dan sosial)

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Kesesuaian penggunaan bahasa cerpen

Menggunakan

1) kaidah EYD

2) keajekan penulisan

3) ragam bahasa yang disesuaikan dengan dimensi

tokoh dan latar

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Soal nomor 10 (menulis naskah drama) dapat mengikuti rubrik penilaian sebagai berikut:

Aspek

Kriteria dan Skor

5

4

3

2

Kelengkapan aspek formal drama

Memuat

1) judul,

2) informasi tokoh,

3) kramagung dan wawancang,

4) pembagian babak, dan

adegan

Hanya memuat empat subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat tiga subaspek

Hanya memuat satu aspek

Kelengkapan unsur intrinsik

Memuat

1) fakta cerita (plot, tokoh, dan

latar)

2) sarana cerita (sudut pandang

penceritaan, gaya bahasa,

simbolisme, dan ironi),

3) pengembangan tema

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua suaspek

Hanya memuat satu subaspek

Keterpaduan unsur/struktur

Struktur disusun dengan memperhatikan

1) kaidah dan penahapan plot,

2) dimensi tokoh

3) dimensi latar

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Kesesuaian penggunaan bahasa

Menggunakan

1) kaidah EYD

2) keajekan penulisan

3) ragam bahasa yang disesuaikan

dengan dimensi tokoh

Memuat ketiga subaspek, namun tidak lengkap

Hanya memuat dua subaspek

Hanya memuat satu subaspek

Skor tertinggi: 20 (untuk mencapai nilai 100, nilai yang dicapai siswa dikalikan 5)









DAFTAR PUSTAKA

Anirun, Suyatna. 1979. Tehnik Pemeranan. Diktat. Bandung: Studiklub Teater Bandung.

Atmojo, Kemala. 1992. "Saya selalu Takut". Wawancara dengan Arifin C. Noer. Matra. No. 71.

Hadimadja, Aoh K. 1972. Aliran Klasik, Romantik, dan Realisma.

Jakarta: Pustaka Jaya.

Harymawan, RMA.1988. Dramaturgi. Bandung: Rosda.

Jassin, H.B. 1981. Tifa Penyair dan Daerahnya. Jakarta: Gunung Agung.

Luxemburg, Jan Van dkk, 1986. Pengantar Ilmu Sastra (Terjemahan Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.

Moody, H.L.B. 1971. The Teaching of Literature. London: Longman Group LTD.

Padmodarmaya, Pramana. 1990. Pendidikan Seni Teater Buku Guru Sekolah Dasar . Jakarta: Depdikbud.

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rendra. 1982. Tentang Bermain Drama. Jakarta Pustaka Jaya.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung : Gunung Larang.

_________. 1996. Peristiwa Teater. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

_________. Tanpa Tahun. “Analisis Naskah Drama.” Kertas Kerja.

S. Effendi. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Pustaka Jaya.

Soelarto, B. 1985. Lima Drama. Jakarta: Gunung Agung.

Stanislavski. 1980. Persiapan Seorang Aktor. Terjemahan Asrul Sani. Jakarta: Pustaka Jaya .

Sudjiman, Panuti. (Peny). 1986. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Gramedia.

Sumiyadi. 1992. “Drama sebagai Seni Sastra dan Pertunjukan” dalam Mimbar Pendidikan Bahasa dan Seni No. XVIII.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Tim Penyusun Kamus. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Terjemahan Melani Budianta). Jakarta: Gramedia

Zaidan, Abdul Razak. 2000. Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.

GLOSARIUM

apresiasi sastra

kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra

drama

ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertujukkan di atas pentas.

dramatisasi puisi

mendramakan puisi; mengubah teks puisi menjadi teks drama

dramatisasi cerpen

mendramakan cerpen; mengubah teks cerpen menjadi teks drama

dialog

kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh tokoh dalam sebuah drama

ekspresi sastra

segala kegiatan yang memungkinkan kita mendapatkan pengalaman artistik sastra yang diungkapkan baik secara lisan, tertulis, dan ragawi

mendongeng

menuturkan cerita rakyat baik dengan kata-kata sendiri, maupun dengan cara menghafalnya

musikalisasi puisi

menggubah puisi menjadi sebuah lagu dengan mempertimbangkan keselarasan antara karakter puisi dan musik yang mengiringinya

paduan baca cerpen

membacakan cerpen secara padu sehingga menimbulkan suara yang indah dan sesuai dengan isi dan karakter cerpen

rampak puisi

membacakan puisi secara serempak atau secara padu sehingga menimbulkan suara yang indah dan sesuai dengan isi dan karakter puisi

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...