Alif lahir di sebuah kampung kecil di pinggir Danau Maninjau. Ia tidak pernah menginjakkan kaki di luar tanah kelahirannya. Alif bercita-cita kelak melanjutkan pendidikannya ke Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu kampus terkenal di Pulau Jawa.

Namun sang amak (ibu) ingin Alif masuk pesantren agar bisa bermanfaat seperti Bung Hatta dan Buya Hamka.

Dengan setengah hati, Alif menjalani keputusan orang tuanya dan bersekolah di Pondok Madani sebuah pesantren di sudut kota Ponorogo, Jawa Timur.

Kedatangannya di Pondok Madani yang terkesan kampungan dengan berbagai peraturan yang ketat semakin meremukkan semangat Alif. Namun seiring berjalannya waktu, ia pun mulai bersahabat dengan teman-teman dari berbagai daerah.

Semangat anak-anak muda ini untuk belajar dan bersungguh-sungguh, terinspirasi oleh perkataan Ustad Salman, salah seorang guru di pondok pesantren itu.

"Man Jadda Wa Jada..Man Jadda Wa Jada" (Barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).
Mantra inilah yang menambah tekad dan kesungguhan meraih cita-cita dan membuat mereka sukses dalam kehidupannya masing-masing. Film ini diangkat dari novel laris berjudul sama yang ditulis oleh Ahmad Fuadi, mantan wartawan, dan peraih sejumlah beasiswa Internasional.

“Novel dan film ini sebetulnya sebagian besar diinspirasi dari cerita saya,” ujar Ahmad Fuadi.
Tampak hadir berbagai kalangan dalam pemutaran perdana film ini, mulai dari aktor dan aktris pendukung, kalangan dunia hiburan dan sejumlah tokoh masyarakat.

Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, mengatakan setiap orang yang menjalani proses pendidikan dalam hidupnya pasti juga akan mengalami berbagai tantangan seperti yang digambarkan dalam film ini.

“Film ini menurut Saya powerful mengirimkan pesan bahwa belajar dan pendidikan itu adalah kunci untuk bisa mencapai puncak menara-menara impian. Melihat film ini mungkin seperti menengok pada kaca cermin sejarah perjalanan hidup,” kata Anies Baswedan.

Sementara, dari kalangan perfilman tampak Produser Film Laskar Pelangi, Putut Widjanarko, film inspiratif bertema pendidikan yang sebelumnya juga laris di pasaran. Ia menyatakan keyakinannya kalau film-film bertema pendidikan yang dikemas secara menarik mampu memberikan pilihan dan warna lain dalam dunia perfilman Indonesia.

“Saya kira film Negeri 5 Menara ini, sangat berhasil menampilkan kehidupan pesantren dan juga menggambarkan kekuatan cita-cita. Saya kira film ini juga akan mampu menginspirasi banyak orang untuk berani bermimpi dan menyatakan bahwa barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan berhasil,” demikian komentar Putut Widjanarko.

Tentang Novel

coverNegeri 5 Menara adalah sebuah trilogi, yang terdiri dari 3 novel yang saling bersambung. Novel pertama adalah "Negeri 5 Menara", yang kedua adalah "Ranah 3 Warna" dan yang ketiga sedang dalam proses penulisan. Judulnya nanti akan mengandung unsur angka 1.

Buku 1: Negeri 5 Menara
Buku ini ditulis dengan syukur, respek dan terima kasih. Kepada Tuhan, kepada orang tua dan handai tolan, dan kepada setiap orang yang telah menanam kebaikan dalam hidupnya.

"Negeri 5 Menara” adalah buku pertama dari rencana trilogi. Buku ini berniat merayakan sebuah pengalaman menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. Semoga buku ini bisa membukakan mata dan hati pembaca.  Dan menebarkan inspirasi ke segala penjuru. 

Salah satu pesan utama novel ini adalah "man jadda wajada" sebuah pepatah Arab yang berarti "siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses". Pengalaman para tokoh di novel ini mengajarkan mereka bahwa apa pun mungkin diraih selama didukung usaha dan doa. Jangan pernah remehkan mimpi, setinggi apa pun. Sungguh Tuhan Maha mendengar.

Sebagian royalti diniatkan untuk merintis Komunitas Menara, sebuah organisasi sosial berbasis relawan (volunteer) yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, dan dapur umum secara gratis buat kalangan yang tidak mampu.

sumber:http://negeri5menara.com/
http://www.voanews.com/indonesian/news/Negeri-5-Menara-Film-Tentang-Tekad-Kerja-Keras-dan-Persahabatan-140459103.html