multi info, hiburan, pengetahuan, dan aneka informasi

WAJAH ORANG CACAT: WAJAH ALLAH (Andar Simail, Selamat Melayani Tuhan, 1996, hal 63-65)

Leher anak itu miring dan tangan kirinya seperti menggantung serta bergoyang-goyang terus. Seorang ibu berjalan pincang. Tiga orang buta menunggu kesempatan menyeberang jalan sambi9l memegang bahu teman di depannya. Apa reaksi kita? Kita memandangi mereka dan kita merasa kasihan.
Tetapi tahukah kita bahwa orang cacat justru paling tidak senang ditonton dan paling tidak mau dikasihani? Kalau ditonton dan dikasihani mereka merasa semakin berbeda dari orang lain. di sampul brosur suatu panti karya orang cata tertulis: Janganlah kami dikasihani.
Satu dari sepuluh orang adalah penyandang cacat, entah cacat tubuh, cacat mental, cacat penglihatan atau cacat pendengaran. Ada yang cacat tunggal, ada yang cacat ganda. Ada yang cacat ringan, ada yang cacat berat. Kalau satu dari sepuluh orang adalah penyandang cacat, tentunya ada orang cacat di tiap kelas sekolah, di tiap kantor, di tiap pabrik dan di tiap gereja. Tetapi kenyataannya di situ tidak ada orang cacat. Mengapa? Bukan karena orang cacat tidak ada, melainkan karena tempat-tempat itu tidak membuka pintu bagi orang cacat.
Misalnya, apakah gereja terbuka untuk orang cacat? Kita menjawab tentu saja. Tapi lihat kenyataannya, apakah orang cacat yang duduk di kusi roda bisa masuk ke gedung gereja kita? Anak tangganya begitu banyak, bagai9mana orang bertongkat atau berkursi roda bisa naik? Orang yang kakinya cacat akan termangu di depan gedung gereja ketika melihat anak-anak tangga dan berkata lirih, "Gereja ini bukan untuk saya."
Pelayanan yang dibutuhkan oleh orang cacat adalah membuka pintu semua bidang kehidupan sehingga orang cacat bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi. Tetapi masyarakat cenderung mengisolasi dan menyisihkan orang cacat. Keadaan cacat dianggap sebagai aib yang memalukan. Banyak orang tua menyembunyikan anaknya yang cacat. Akibatnya anak itu pun merasa malu dan merasa rendah diri.
Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang betul-betul berbeda. Ia tidak menyisihkan orang cacat. Menurut Lukas 14:7-24 pada suatu perjamuan Yesus melihat orang-orang yang hadir berusaha memberi kesan bahwa mereka yang terkemuka. Mereka seolah-olah saling meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Karena itu kepada tuan rumah pesta itu Yesus berkata: "....apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta (ayat 13)".
Di tengah budaya yang menmyingkirkan orang cacat ke pinggir lingkaran pergaulan dan kehidupan masyarakat, Yesus justru menghisabkan orang cacat
Pelayanan kepada orang cacat adalah pelayanan penerimaan dan pengikutsertaan. Orang cacat ingin diterima dan diikutsertakan sebagai warga biasa. Mereka mempunyai harga diri yang kuat, sebab mereka itu ingin mandiri dan berkarya. Mereka bukan ingin menerima sumbangan, melainkan memberikan sumbangan. Gereja bisa melibatkan dan mengikutsertakan orang cacat dalam pelbagai jenis pelayanan yang memungkinkan. Sejauh keadaan orang cacat itu sendiri memungkinkan, tiap jabatan dan pelayanan gereja terbuka untuk orang cacat. Hal ini juga tentu berlaku untuk pelbagai jenis profesi dalam masyarakat.
Pernah keduabelas murid melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Mereka bertanya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta (Yohanes 9:2)?" Pertanyaan itu oleh Yesus dinilai tidak relevan. Yesus menjawab: "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (ayat 3)". menurut Yesus, yang perlu dipersoalkan bukanlah mengapa orang itu buta, melainkan bagaimana menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah di dalam orang itu. Lalu Yesus menyembuhkan dia. Itu sebuah bentuk nyata pekerjaan Allah.
Melayani orang cacat adalah menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah kepada mereka, yaitu menerima mereka sebagaimana mereka adanya, menghargai mereka sama seperti warga masyarakat lainnya, membuka kesempatan yang memungkinkan mereka ikut serta dalam segala bidang kehidupan. Ktika Yesus berumpama tentang undangan perjamuan kerajaan Allah, maka Ia berkata: ".......bawalah kemari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang buta dan orang-orang lumpuh" (Lukas 14:21).
Justru orang cacat mendapat tempat yang terhormat dalam Kerajaan Allah. orang cacat pun adalah gambar dan rupa Allah. Wajah orang cacat adalah juga wajah Allah.

Download klik: WAJAH ORANG CACAT WAJAH ALLAH

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Blog Archive