STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DAN PENERAPANNYA DALAM KELAS

3.1 Strategi Pembelajaran Menyimak/Mendengarkan
Berikut ini dikemukakan beberapa strategi pembelajaran menyimak, yaitu bercerita/menyimak cerita, dictogloss, Simon berkata, nomor telepon, dan tampilan jam. Dalam aplikasinya di kelas, guru diharapkan dapat menyesuaikan standar isi dengan strategi yang dipakai. Dengan demikian, tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran tetap terarah.

3.1.1 Bercerita/Menyimak Cerita
Sebagai mengawali bagian ini perlu dipertegas tentang konsep cerita. Cerita adalah hasil karya sastra yang di dalamnya terdapat kenikmatan dan kesenangan bagi pengarang yang telah menyusun dan mengarangnya, pendongeng yang menyampaikannya, dan penyimak yang menyimaknya. Cerita adalah seni. Seni memberi pengaruh, baik pada jiwa orang dewasa maupun anak-anak, karena ia dapat mengasah rasa dan akal. Seni yang disajikan untuk anak-anak haruslah berbeda, baik kualitas, kuantitas, gaya bahasa, maupun metode penyampaiannya dari orang dewasa.
Dalam pembelajaran bercerita, agar sebuah cerita memberikan makna dalam pembelajaran, seorang guru bahasa mestinya mampu memilih teks cerita yang bermakna. Pemilihan teks cerita tentunya disesuaikan dengan tuntutan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasat sebagaimana tertera dalam silabus. Untuk Standar Kompetensi “Mendengarkan pembacaan cerita rakyat” dengan Kompetensi Dasar “Menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat”, guru dapat memilih cerita rakyat yang bernuansa lokal. Artinya, guru tidak harus selalu memaparkan cerita rakyat yang terdapat dalam buku panduan/buku pegangan pembelajaran. Sebagai misal, dalam buku panduan/buku pegangan, juga buku teks untuk siswa, tertera cerita rakyat “Timun Emas”. Ini tidak selalu berarti guru harus bercerita tentang Timun Emas. Guru dapat saja berkreasi menggali cerita-cerita rakyat yang bernuansa lokal dan dekat dengan kehidupan anak.
Berikut ini ditampilkan sebuah cerita rakyat yang bernuansa lokal untuk pembelajaran bercerita pada siswa SMP atau SMA di NAD.

Putri Pukes (Inen Manyak Pukes)
Cerita Rakyat Tanah Gayo
(Penulis: Teuku Alamsyah)
Tersebutlah di Tanah Gayo seorang putri yang bernama Pukes. Di tempat asal cerita ini, Putri Pukes lazim juga disapa sebagai Inen Manyak Pukes. Putri Pukes sejak kecil hidup bahagia bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah adat gayo. Ketika menginjak usia dewasa, Putri Pukes telah menjadi gadis yang cantik jelita, bertabiat santun, dan penuh pengabdian kepada kedua orang tuanya.
Sebuah keluarga di kampung tetangga mendengar berita tentang Putri Pukes dan dia berniat melamar Putri Pukes untuk menjadi menantunya. Putri Pukes akan dikawinkannya dengan putranya Banta Keumari. Datanglah utusan ke rumah orang tua Putri Pukes untuk melamar sang gadis. Singkat cerita, lamaran diterima dan waktu acara pernikahan pun sudah ditetapkan.
Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Pesta meriah ala Tanah Gayo pun berlang-sung. Tetamu datang dari berbagai penjuru desa. Tidak lupa pula ditampilkan Tari Guel, Tari Reusam Beurume, dan Tari Putroe Bungsu. Semua tamu merasa terhibur. Acara pesta berlangsung tiga hari tiga malam.
Esoknya adalah hari yang bersejarah bagi Putri Pukes. Ia harus rela berpisah dengan kedua orang tuanya, sanak saudaranya, handai tolan, dan rumahnya tercinta tempat ia mengukir kasih mesra bersama ayah bunda dan adik-adiknya. Ia harus rela pula berpisah dengan tepian air tempat ia bermandi sejak kecil hingga ia dewasa. Semua itu harus ia tinggalkan. Putri Pukes akan mengiringi suaminya hidup bersama mertua di kampung suaminya. Sulit ia bayangkan kapan ia akan dapat kembali lagi ke kampung halamannya tercinta. Memang adat negerinya sudah demikian adanya.
Ketika akan berangkat meninggalkan rumahnya, ibundanya berpesan, “Wahai anakku Putri Pukes. Kini engkau telah dewasa, engkau telah bersuami. Kami telah mendidikmu dengan segenap kemampuan yang ada. Kini tempuhlah hidupmu dan jadilah dirimu sendiri. Kemesraan yang pernah ada antara kita kini akan berganti dengan kemesraan dalam bentuk yang lain. Dengarlah kata-kata suamimu dan berbaktilah padanya sebagaimana layaknya seorang istri. Janganlah engkau pernah bermasam muka pada suamimu. Semoga engkau menemukan kebahagiaan dalam hidupmu anakku! Satu lagi pesanku, “Setelah meninggalkan rumah ini jangan sekalipun engkau menoleh ke belakang. Teruslah berjalan ke kampong suamimu.
Di tengah perjalanan batas antara kampungnya dan kampung suaminya, kerinduan Putri Pukes tak terbendung lagi. Tanpa sadar ia menoleh ke belakang. Tampak olehnya sayup-sayup atap rumahnya dan tampak pula sepintas pohon Alpukat bergoyang bersama angin. Namun, tanpa diduga tiba-tiba langit kelam, hujan turun disertai petir yang menggelegar. Putri Pukes dan suaminya terkesima. Setelah cuaca bersahabat kembali, Putri Pukes dan suaminya telah menjadi batu dan hingga kini batu tersebut dapat dijumpai di daerah perbatasan Kota Takengon menuju Bintang.
Langkah-langkah yang lebih spesifik yang dapat ditempuh oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran bercerita adalah sebagai berikut.
Langkah 1. Menjalin Interaksi dengan Siswa
Sebagai kegiatan awal pembelajaran, guru mengarahkan siswa pada situasi siap memasuki kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini antara lain dapat berupa (1) tanya jawab singkat mengenai cerita-cerita yang pernah didengar atau dibaca siswa, dapat juga pembelajaran dimulai dari sebuah kisah film yang diperkirakan dapat menarik minat siswa pada topik pembelajaran. Contoh (untuk siswa SMA), “Anak-anak, Romeo dan Juliet adalah sebuah kisah tragis kehidupan dua anak manusia yang berakhir dengan kematian. Kisah ini abadi sepanjang zaman. Selalu menarik untuk diceritakan dan didengar!” “Masih ingat siapa pengarang cerita Romeo dan Juliet?”
“Hari ini topik kita adalah berbicara (guru menulis topik di papan tulis). “Indikator yang akan kita capai dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut....” “Sekarang kita akan membentuk formasi kelas. (guru memberikan beberapa instruksi)
Langkah 2. Membentuk Formasi Kelas
Formasi kelas yang disarankan dalam pembelajaran bercerita adalah duduk melingkar. Posisi guru berada di tengah-tengah lingkaran sebagaimana terlihat pada denah berikut.


Dalam pembelajaran bercerita, disarankan formasi kelas berbentuk melingkar. Dalam lingkaran itu, guru sebagai pencerita mengambil posisi di tengah lingkaran atau di tengah-tengah para siswa. Di tengah lingkaran itu, guru harus bebas bergerak ke setiap sudut. Hanya terdapat sedikit ruang terbuka dalam lingkaran itu sebagai ‘pintu’ bagi guru masuk di tengah lingkaran. Di tengah lingkaran sebaiknya diletakkan sebuah kursi karena guru tidak mungkin sepenuhnya bercerita sambil berdiri. Adakalanya guru juga harus duduk. Akan lebih mantap lagi jika guru mengambil posisi duduk sesuai dengan tuntutan cerita. Contoh, “Pangeran itu pun bertitah dari singgasananya yang megah”. Pada penggalan ini cukup beralasan jika guru mengambil posisi duduk.


Langkah 3. Pemberian Instruksi
Setelah semua siswa duduk dalam formasi melingkar, guru memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut.
1) “Anak-anak! (Bapak atau Ibu) sudah mempersiapkan fotokopi teks cerita
yang akan Bapak/Ibu bacakan sebentar lagi.” (membagikan teks cerita kepada semua siswa). “Ketika (Bapak atau Ibu) membacakan teks cerita, silakan anak-anak mengikutinya melalui teks yang sudah Bapak/Ibu bagikan. Penting untuk diingat, jangan ada yang membaca bersuara ketika Bapak/Ibu membacakan cerita. “Upayakan perhatian sepenuhnya terpusat pada teks cerita yang dibacakan”.
2) “Setelah pembacaan cerita selesai, setiap siswa (individu) menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut!” (pertanyaan diberikan setelah pembacaan cerita selesai).
• Tuliskan sisi yang paling menarik dari cerita tersebut!
• Mengapa sisi itu paling menarik menurut pandanganmu!
• Bagaimanakah karakter tokoh utama dalam cerita?
• Apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda tokoh utama cerita!
• Tulislah nilai-nilai religius, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai moral yang terdapat dalam cerita!

Langkah 4. Perubahan Formasi Kelas
(perubahan formasi kelas untuk kerja kelompok)
1) Setelah tugas individu diperkirakan selesai dikerjakan oleh siswa (10 menit), langkah berikutnya adalah mengubah formasi kelas dari formasi melingkar menjadi formasi duduk berkelompok. Dalam kelompok, siswa saling sharing terhadap tugas yang sudah dikerjakan secara individu tadi dan hasil tugas individu disatukan menjadi tugas kelompok untuk dipresentasikan.

catatan: pada setiap kelompok jangan ada ketua kelompok. Dalam kelompoknya, semua siswa adalah anggota kelompok)
2) Presentasi hasil kerja kelompok (dapat berupa menempelkan hasil kerja kelompok pada dinding kelas atau pada papan tulis, dan seorang siswa mewakili kelompoknya mempresentasikan hasil kerja kelompok yang sudah ditempelkan)
3) Diskusi pleno
4) Pemberian penguatan, penyimpulan hasil pembelajaran, dan penentuan batas-batas tugas.

Langkah 5. Penulisan Refleksi Pembelajaran
1) Meminta semua siswa menulis refleksi terhadap pembelajaran sebagai salah satu dokumen portofolio.
2) Jika waktu masih memungkinkan, mintalah salah seorang siswa membacakan refleksinya dan berilah komentar.

Contoh Refleksi (Asrul Fuadi, kelas II SMP Negeri Antara)
Pembelajaran hari ini berbeda. Selama menjadi siswa, baru hari ini saya mengikuti pelajaran yang suasananya lain dari biasa. Sungguh sangat menyenangkan. Ini sudah 13.30 WIB, tetapi saya belum merasa lelah dan belum merasa lapar. Waktu kerja kelompok tadi memang agak repot. Semua teman dalam kelompok saya mempertahankan ide masing-masing. Hasilnya, kelompok kami adalah yang paling terakhir siap menyelesaikan tugas. Tapi alhamdulillah walaupun ada sedikit ketegangan, tugas kami selesai juga.

Komentar guru (ditulis di bagian bawah refleksi siswa)
• Saya memang berharap pembelajaran hari ini bermakna bagi siswa.
• Kerja sama dalam kelompok memang tidak mudah. Kita harus membiasakan diri mendengarkan gagasan orang lain karena setiap orang mempunyai gagasan, dan itu patut dihargai. Saling menghargai inilah sebetulnya salah satu tujuan kerja kelompok.

3.1.2 Dictoglos
Dalam pembelajaran menyimak dengan strategi ini, guru membacakan sebuah wacana singkat kepada siswa dengan kecepatan normal dan siswa diminta menuliskan kata sebanyak yang mereka mampu. Mereka kemudian bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk merekonstruksi wacana dengan mendasarkan kepada serpihan-serpihan yang telah mereka tulis. Strategi ini mirip dengan metode dikte tradisional, walaupun hanya bersifat superfisial. Ada empat tahap dalam teknik dictoglos ini.
1) Persiapan. Pada tahap ini, guru mempersiapkan siswa menghadapi teks yang akan mereka dengar dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendiskusikan gambar stimulus, dengan membahas kosakata, dengan meyakinkan bahwa siswa tahu apa yang harus dilakukan, dan dengan meyakinkan bahwa siswa ada pada kelompok yang sesuai.
2) Dikte. Siswa mendengarkan dikte dua kali. Pertama, mereka hanya mendengar dan mendapatkan gambaran umum teks tersebut. Kedua, mereka membuat catatan, dengan dimotivasi hanya untuk mencatat kata-kata isi yang nantinya akan membantu mereka merekonstruksi teks. Untuk alasan konsistensi, lebih baik siswa mendengarkan teks tersebut melalui tape-recorder bukan dari teks bacaan guru.
3) Rekonstruksi. Pada akhir dikte, siswa mengumpulkan catatan-catatan dan menyusun kembali teks versi mereka. Selama tahap ini perlu diingat bahwa guru tidak memberikan masukan bahasa kepada siswa.
4) Analisis dan koreksi. Ada berbagai cara untuk menangani tahap ini. Pertama, setiap teks versi siswa bisa ditulis pada papan tulis atau ditayangkan melalui overhead proyektor (OHP). Kedua, teks bisa diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada semua siswa. Ketiga, siswa bisa membandingkan versi mereka dengan teks asli, kalimat demi kalimat.
Strategi dictoglos ini bisa menjadi jembatan yang berguna antara menyimak buttom-up dan top-down. Dalam kasus pertama, pembelajar terutama berurusan dengan bagaimana mengenali unsur-unsur individual di dalam teks (strategi buttom-up). Namun, selama diskusi kelompok kecil, beberapa atau semua strategi top-down mungkin disertakan. Pada strategi ini, pembelajar akan mengintegrasikan pengetahuan “dalam kepala” atau background knowledge mereka. Melalui teknik dictoglos ini, pembelajar akan mampu:
1) membuat prediksi-prediksi;
2) membuat inferensi-inferensi tentang hal-hal yang tidak ada di dalam teks;
3) akan mengenali topik teks;
4) akan mengenali jenis teks (apakah naratif, deskriptif, anekdot, dan sebagainya); dan
5) akan mengenali berbagai jenis hubungan semantik di dalam teks.
Dengan demikian, strategi dictoglos mampu memanfaatkan prinsip bahwa dua kepala selalu lebih baik daripada satu kepala. Siswa mampu mengumpulkan dan memanfaatkan sumber-sumber, bahkan untuk siswa yang tergolong low-level. Dengan bekerja sama, siswa akan mampu melakukan sesuatu di atas kompetensi mereka yang sebenarnya.
Tentu saja, pembelajaran menyimak ini tidak harus mendominasi seluruh waktu dalam suatu tatap muka. Ia bisa diintegrasikan dalam pelajaran apa pun. Tahap pemanasan merupakan tahap yang paling cocok dan menyediakan cukup kesempatan untuk aktivitas menyimak ini (Azies dan Alwasilah, 2000).
Contoh penerapannya dalam pembelajaran.
Langkah 1. Persiapkanlah sebuah teks bacaan sepanjang satu atau dua
paragraf
Langkah 2. Bagilah siswa atas kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 3 atau 5 orang.
Langkah 3. Bacalah teks dengan kecepatan sedang. Instruksikan terlebih
dahulu agar semua siswa menyimak teks yang dibacakan.
Langkah 4. Bacalah teks sekali lagi. Instruksikan agar semua siswa dalam
kelompok mencatat kata-kata yang dapat mereka tangkap
dari teks yang dibacakan.
Langkah 5. Semua kelompok merekonstruksi ulang teks yang dibacakan
berdasarkan kata-kata atau penggalan kalimat yang mereka
dapat dari hasil mencatat bahan simakan.
Langkah 6. Presentasi hasil kerja kelompok.

Contoh teks:
Di sebuah negeri tinggallah seorang permaisuri tua. Raja negeri itu sudah lama mangkat. Permaisuri itu mempunyai seorang putri yang amat cantik parasnya. Putri itu telah bertunangan dengan seorang anak raja yang jauh negerinya. Ketika tiba waktunya akan kawin, bersiap-siaplah putri itu untuk berangkat ke negeri tunangannya. Di sanalah akan diadakan perhelatan perkawinan. Bundanya membekali dia dengan bermacam-macam perhiasan dari emas dan perak serta barang-baramg lain yang tak ternilai harganya. Semuanya disediakan oleh permaisuri itu karena ia sangat cinta kepada anaknya yang hanya seorang itu. Selain dari itu dititahkannya pula seorang pengasuh pergi bersama-sama untuk menjaga keselamatan putri itu dalam perjalanan. Masing-masing diberi seekor kuda untuk kendaraan. Kuda putri bernama Fallada dan binatang itu pandai berkata-kata.

3.1.3 Simon Berkata (Simon Says)
Inilah barangkali permainan menyimak yang paling terkenal di antara permainan lain. Siswa kelas diberi serangkaian perintah, tetapi mereka hanya boleh patuh jika perintah itu diawali dengan Simon says .... contohnya adalah sebagai berikut:
1. Stand up (tidak ada respons)
2. Simon says, stan up (mereka berdiri)
3. Simon says, clap twice (mereka bertepuk tangan)
4. Clap three times (mereka diam)
5. Sit down (mereka tetap berdiri)
6. Simon says, touch your neighbour’s shoulder (mereka melakukannya)
7. Pick up your pen (tidak ada respons)
8. Simon says, write your name on ...
Permainan ini akan menjadi lebih menarik jika dihubungkan dengan kompetisi antarkelompok. Dari sekian kelompok yang ada di kelas, guru bisa menentukan mana yang menjadi pemenang dengan menghitung kesalahan yang mereka lakukan. Pemenangnya adalah kelompok yang melakukan kesalahan paling sedikit dan/atau merespon perintah dengan benar dan cepat.

3.1.4 Nomor Telepon (Telephone Numbers)
Bacalah dengan keras nomor telepon kemudian siswa menulis-kannya. Hasilnya dicek pada papan tulis. Cara lain yang lebih menarik adalah perdengarkanlah kepada siswa sebuah dialog. Dalam dialog tersebut disebutkan salah satu atau beberapa nomor telepon. Satu per satu nomor tersebut diperdengarkan kepada siswa dan siswa yang sebelumnya telah dikelompokkan tersebut diminta menuliskan nomor yang telah mereka dengar. Setelah berdiskusi, mereka diminta menuliskan nomor hasil ‘tangkapan’ mereka di papan tulis. Dengan nomor-nomor tersebut, guru bisa menentukan mana kelompok yang menang dengan membandingkan nomor mereka dengan nomor dalam tapescript.


3.1.5 Tampilan Jam (Clock Faces)
Siswa menggambar lingkaran kecil pada secarik kertas. Pada saat guru membacakan waktu, mereka menggambar jarum jam pada posisi yang benar. Mereka tidak perlu menuliskan angka-angka dari 1-12 pada lingkaran tersebut. Permainan ini bisa dipadukan dengan keterampilan matematis siswa. Buatlah beberapa clock faces pada papan tulis sesuai dengan jumlah kelompok siswa. Pada model ini clock faces ini, guru menetukan posisi jarum (misalnya pada setiap 10 past 5, 15 to 11, 12 past 8, 15 to 7).

Tulislah nama setiap clock faces sesuai dengan nama kelompok siswa tersebut. Sebagai contoh, kelompok A mempunyai clock faces A, yaitu 10 past 5. Yang harus dilakukan siswa selanjutnya adalah merespons apa yang dikatakan guru, seperti “Your clock is 30 minute late”. Untuk kelompok A, siswa tentu harus menuliskan 5.40 (40 past 5) sebagai respons mereka. permainan ini sama dengan yang lain, juga bisa dikompetisikan.
Pembelajaran menyimak dengan menggunakan tampilan jam ini dapat juga disajikan dalam bentuk cerita. Guru memperdengarkan sebuah cerita yang di dalamnya terdapat perputaran waktu. Siswa dalam kelom-poknya memindah-mindahkan posisi jarum jam sesuai dengan perputaran waktu yang terdapat dalam cerita yang dibacakan/diperdengarkan.
Contoh:
Saya seorang peneliti bahasa-bahasa daerah di Nusantara. Saat ini saya berada di NAD untuk meneliti ragam dialek bahasa Aceh di Aceh Besar. Hari ini saya akan melakukan pengenalan wilayah penelitian. Perjalanan saya mulai dari Jantho menuju Seulimuem. Jam di tangan saya menunjukkan waktu tepat pukul 8.15. WIB. Dengan mengendarai sepeda motor, saya menuju Seulimuem. Dari Jantho ke Seulimeum menghabiskan waktu 13 menit. Di Seulimeum saya tidak singgah. Saya melanjutkan perjalanan menuju Sare. Dari Seulimeum ke Sare menghabiskan waktu 55 menit.

3.2 Strategi Pembelajaran Membaca
3.2.1 Teknik Cloze
Istilah cloze diambil dari persepsi psikologi gestal yang merupakan proses merupakan proses ‘menutup’ sesuatu yang belum lengkap. Dalam teknik cloze, tempat kosong sengaja disediakan dalam suatu wacana dengan menghilangkan kata-kata tertentu yang kesekian (ke-n: ke-5, ke-6, atau ke-7). Tugas siswa dalam tes ini adalah mengisikan kembali kata-kata yang dihilangkan tersebut. Untuk mengisikan kembali kata-kata itu secara tepat, siswa dituntut menguasai sistem gramatikal bahasa dan harus dapat memahami wacana.
Kemampuan pembaca untuk mengisikan kata yang hilang dalam teks itu mirip dengan proses konstruktif. Jika konteksnya secara komplit bersifat redundan (melimpah/pengulangan), atau pengisian kata itu berupa peringatan, pengisian data itu tidak berbeda dengan melengkapi pola visual yang belum sempurna. Akan tetapi, jika konteksnya belum dikenal, pengisian kata menjadi lebih sulit dilakukan karena kita harus memahami konteks itu terlebih dahulu. Itu sebabnya teknik cloze tepat digunakan untuk mengukur kemampuan pelajar untuk memahami suatu wacana (umumnya berupa tulisan, tetapi dapat juga secara lisan).
Mengukur kemampuan berbahasa siswa menggunakan teknik close dapat dilakukan dengan memilih wacana yang ‘memaksa’ siswa untuk memahami wacana itu. Untuk dapat memaksa siswa agar memahami wacana tersebut, wacana yang dipilih haruslah yang tingkat redundansinya rendah dan juga bukan merupakan wacana yang hanya dikenal oleh kelompok tertentu saja.
Penghilangan kata dalam suatu wacana cloze dapat dilakukan dengan menghilangkan setiap kata yang ke-n atau menghilangkan setiap jenis kata tertentu; sifat, kerja, atau kata tugas (Nurgiantoro, 1995:183)
Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Wilson Taylor (1953) dengan nama Cloze Procedure. Konsep ini menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap secara mental menjadi satu kesatuan yang utuh; kecenderungan untuk mengisi atau melengkapi sesuatu yang sesungguhnya ada, namun tampak dalam keadaan yang tidak utuh; melihat bagian-bagian sebagai suatu keseluruhan.
Berdasarkan konsep tersebut, Taylor mengembangkannya menjadi sebuah alat ukur keterbacaan wacana yang diberinya nama Cloze Procedure. Istilah ini juga dikenal dengan sebutan Teknik Isian Rumpang. Taylor menggambarkan teknik isian rumpang sebagai suatu metode yang dipergunakan untuk melatih daya tangkap pembaca/penyimak terhadap maksud/pesan penulis/pembicara dengan cara menyajikan secara tidak utuh dalam suatu wacana (merumpangkan bagian-bagian tertentu). Para pembaca/penyimak harus mampu mengolahnya menjadi sebuah pola yang utuh seperti wujudnya semula.
Perhatikan contoh berikut.
Anak perlu dikenalkan kepada alam sekitarnya sedini mungkin. Ini penting untuk perkembangan.................(1) dan emosinya. Anda dapat ...........(2) proses mekarnya bunga dan ..............(3) aneka warna bunga pada ..........(4). Kepada anak yang lebih ........(5) Anda dapat menceritakan bentuk ......(6) warna bunga yang indah ........(7), baunya yang harum, atau .........(8) membuat serangga tertarik dan ..........(9) untuk menghisap madu.
Bandingkan dengan wacana di bawah ini!
Selain, itu pengenalan ............(1) alam sekitar .......(2) penting ........(3) merangsang kepekaan penginderaan anak. Tangannya bisa setiap kali disentuhkan ..........(4) permukaan ......(5) ujung daun ......(6) melatih alat perabanya. Anak .......(7) sudah pAndai berjalan .........(8) diajak menginjak rumput .........(9) berembun ........(10) pagi.

Pada dua contoh di atas, pembuatan teknik cloze tidak sama. Pengosongan/pelesapan kata pada wacana pertama dilakukan dengan tingkat keteraturan yang konsisten. Penghilangan kata pada wacana yang pertama dilakukan pada setiap kata kelima. Pelesapan baru dilakukan pada kalimat kedua, sedangkan kalimat pertama wacana tersebut dibiarkan hadir secara utuh.
Pengosongan/pelesapan pada wacana kedua tidak dilakukan atas dasar keteraturan jarak. Penghilangan kata pada wacana tersebut tampak tidak konsisten atau tidak sistematis berdasarkan jarak. Kalau diperhatikan dengan cermat, penghilangan kata dalam wacana kedua berpola jenis kata. Kata-kata yang dilesapkan adalah kata yang berjenis kata tugas.
Bandingkan dengan teks aslinya berikut ini.
Wacana I
Anak perlu diperkenalkan pada alam sekitarnya sedini mungkin. Ini penting untuk perkembangan intelektual dan emosinya. Anda dapat menceritakan proses mekarnya bunga dan mengenalkan aneka warna bunga pada anak. Kepada anak yang lebih besar, Anda dapat menceritakan bentuk dan warna bunga yang indah serta baunya yang harum atau yang membuat serangga tertarik dan datang untuk menghisap madu.
Wacana II
Selain itu pengenalan terhadap alam sekitar juga penting untuk merangsang kepekaan penginderaan anak. Tangannya bisa setiap kali disentuhkan ke permukaan daun dan ujung daun untuk melatih alat perabanya. Anak yang sudah pandai berjalan dapat diajak menginjak rumput yang berembun setiap pagi.
Jawaban siswa untuk mengisi cloze dalam fungsinya sebagai alat ukur hendaknya tepat benar, yakni kata yang persis sama dengan teks aslinya. Jika jawaban yang dikehendaki oleh wacana I di atas terdiri atas: (1) intelektual, (2) menceritakan, (3) mengenalkan, (4) anak, (5) besar, dan seterusnya, demikian pula seharusnya siswa mengisi/menjawabnya. Cara ini biasanya dimaksudkan untuk dipergunakan oleh sekelompok besar siswa dalam kelas yang besar.
Dalam kenyataannya, penggunaan teknik cloze tidak terlalu menuntut jawaban persis dari siswanya. Kata-kata yang bersinonim atau kata-kata yang dapat menggantikan kedudukan kata asli, baik ditinjau dari segi makna atau struktur kalimatnya, dapat juga diterima sebagai jawaban yang benar. Cara ini biasanya digunakan dalam teknik pengajaran yang dimaksudkan untuk melatih keterampilan siswa membaca (Harjasujana dan Mulyati, 1997).

3.3 Strategi Pembelajaran Menulis
Terdapat bermacam strategi pembelajaran menulis yang dapat diterapkan oleh guru di kelas. Berikut ini dikemukakan beberapa alternatif pembelajaran menulis yang dapat diimplementasikan guru di kelas.
3.3.1 Kerja sama kelas
Strategi pembelajaran kerja sama kelas ini terutama dimaksudkan untuk pembelajaran menulis paragraf (paragraf narasi, deskripsi, persuasi, eksposisi, dan argumentasi). Pelaksanaan strategi ini mengikuti tahapan berikut.
• Bagilah kelas atas kelompok-kelompok (satu kelompok 8-10 orang)
• Mintalah pada setiap kelompok menentukan sebuah topik yang akan ditulis.
Topik dapat juga ditentukan oleh guru. Misalnya tentang warna: hitam, putih, merah, kuning, hijau, biru, ungu, dan warna-warna yang lain.
• Mintalah setiap kelompok memilih salah satu warna.
• Setiap siswa dalam kelompok menulis satu kalimat yang berhubungan dengan warna yang mereka pilih.
• Hasil akhir adalah setiap kelompok menghasilkan satu paragraf yang dibangun bersama.
• Pemajangan hasil kerja kelompok
• Presentasi
• Diskusi
• Penguatan dari guru menyangkut penggunaan kaidah-kaidah bahasa dalam menulis.

3.3.2 Menulis Berdasarkan Media Gambar
Gambar dalam konteks ini lebih berperan sebagai stimulus untuk menulis. Pada aktivitas ini, guru dapat menggunakan gambar yang berasal dari koran, majalah, atau sumber-sumber lain atau gambar buatan guru sendiri. Subjek gambar dapat berupa seorang tokoh terkenal, pemandangan lokal, sebuah peristiwa, gambar bangunan, tempat atau bangunan bersejarah. Aktivitas pembelajaran dapat dimulai dengan meminta siswa menulis pertanyaan-pertanyaan tentang gambar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dalam bentuk tulisan deskriptif.
Contoh:
• Perhatikan gambar di bawah ini baik-baik.
• Tulislah pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan gambar tersebut.
• Jawablah pertanyaan-pertanyaan yang sudah kamu buat hingga membentuk sebuah paragraf.


Gambar yang dijadikan sebagai stimulus untuk menulis dapat juga berupa gambar seri. Antara gambar yang satu dan gambar yang lain mempunyai kaitan maksud atau cerita yang membentuk situasi konteks tertentu. Gambar-gambar tersebut dapat diberi nomor urut yang menunjukkan urutan peristiwa, dapat pula tanpa nomor sehingga menuntut siswa untuk menemukan sendiri kaitan peristiwa dalam gambar.

3.3.3 Menulis Surat
Menulis surat dapat dijadikan sebagai salah satu strategi pembelajaran menulis. Jenis surat yang ditulis dapat berupa surat pribadi dan dapat pula berupa surat resmi. Jika menulis lebih menekankan pada ketepatan struktur bahasa, menulis surat resmi lebih diutamakan, misalnya surat lamaran pekerjaan atau surat undangan. Untuk menulis surat lamaran pekerjaan, umpamanya, guru dapat memanfaatkan iklan di surat kabar tentang lowongan kerja. Siswa diminta menulis surat lamaran pekerjaan berdasarkan lowongan kerja yang tertera pada iklan. Untuk surat undangan, siswa dapat diminta menulis undangan yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan OSIS.

3.3.4 Menyelesaikan Cerita
Pembelajaran menulis model ini dapat dilakukan secara kelompok atau individu. Langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut.
• Pilihlah sebuah teks yang sesuai dengan tingkatan siswa (SMP/MTs, SMA/MA)
• Teks difotokopi sebanyak jumlah siswa di kelas.
• Bentuklah formasi kelas (formasi huruf U atau kelompok-kelompok kecil, 3 orang per kelompok atau berpasangan)
• Bagilah teks kepada semua siswa.
• Mintalah mereka membaca dalam hati teks tersebut.
• Secara individu atau berkelompok mintalah mereka melanjutkan isi cerita atau mengakhiri isi cerita yang ada pada teks yang dibagikan.
• Presentasi, diskusi, penguatan, dan simpulan pembelajaran.

Contoh Teks!
Di sebuah pulau yang terpencil jauh di tengah lautan tinggallah sepasang suami istri dengan rukun dan damai. Mereka tidak pernah mengalami persengketaan. Namun, pada suatu senja ketika sang suami kembali dari laut, ia menemukan sepotong cermin terletak di pantai. Diambilnya cermin itu dan alangkah heran hatinya melihat bayangan manusia di dalamnya. “Inilah agaknya ayahku yang meninggal beberapa bulan yang lalu,” pikirnya.
Cepat-cepat ia pulang ke rumah. Cermin itu dibungkusnya, lalu disimpan di bawah tempat tidur. Hal ini tidak diceritakannya kepada istrinya. Keesokan harinya, ketika istrinya membersihkan tempat tidur, ia menemukan bungkusan itu. Alangkah terkejutnya dia setelah membukanya dan menemukan ada gambar seorang wanita di dalam benda yang dibungkus dengan rapi itu. “Suamiku sudah berkhianat,” pikirnya. “Dulu ia berjanji akan setia sampai mati.” “Rupanya sewaktu ke laut, ia mengambil kesempatan mencari wanita lain.”
Ketika suaminya pulang dari laut senja hari, dia tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya, tetapi dengan omelan dulu. “Kamu mengatakan bahwa sayalah satu-satunya wanita dalam hidupmu!” “Kamu berjanji setia sampai mati, tetapi sekarang kamu punya wanita simpanan!” “Ada apa ini?” “Mengapa kamu bilang saya punya wanita simpanan?” tanyanya. “Ini lihatlah!” teriak sang istri sambil menyerahkan cermin itu kepada suaminya. Sang suami melihat ke dalam cermin kemudian berkata, “Lihatlah baik-baik!” “Ini kan gambar mendiang ayahku!”
(selesaikanlah cerita ini versi kamu masing-masing!)
Pembelajaran menulis model ini dapat juga dipadukan dengan kemampuan siswa menerapkan kaidah ejaan khususnya menyangkut penggunaan kata depan dan tanda baca. Teks yang diberikan kepada siswa tidak diberi tanda baca apa pun dan penulisan kata depan juga diabaikan. Tugas siswa adalah menulis ulang teks dengan menerapkan kaidah penggunaan huruf kapital, penulisan kata depan, dan penggunaan tanda baca secara tepat. Tugas menyelesaikan cerita tetap diberikan.

Petunjuk!
1. Tulislah kembali teks di bawah ini dengan menerapkan kaidah EYD (penulisan kata depan, penggunaan huruf kapital, dan penggunaan tanda baca)
2. Tambahkan paragraf versi Anda untuk mengakhiri cerita tersebut!
3. Berilah judul yang sesuai untuk teks tersebut.
disebuah pulau yang terpencil jauh ditengah lautan tinggallah sepasang suami istri dengan rukun dan damai mereka tidak pernah mengalami persengketaan namun pada suatu senja ketika sang suami kembali dari laut ia menemukan sepotong cermin terletak dipantai diambilnya cermin itu dan alangkah heran hatinya melihat bayangan manusia didalamnya inilah agaknya ayahku yang meninggal beberapa bulan yang lalu pikirnya.
cepat-cepat ia pulang kerumah cermin itu dibungkusnya lalu disimpan dibawah tempat tidur hal ini tidak diceritakannya kepada istrinya keesokan harinya ketika istrinya membersihkan tempat tidur ia menemukan bungkusan itu alangkah terkejutnya dia setelah membukanya dan menemukan ada gambar seorang wanita didalam benda yang dibungkus dengan rapi itu suamiku sudah berkhianat pikirnya dulu ia berjanji akan setia sampai mati rupanya sewaktu kelaut ia mengambil kesempatan mencari wanita lain.
ketika suaminya pulang dari laut senja hari dia tidak menyambutnya dengan senyum seperti biasanya tetapi dengan omelan dulu kamu mengatakan bahwa sayalah satu-satunya wanita dalam hidupmu kamu berjanji setia sampai mati tetapi sekarang kamu punya wanita simpanan ada apa ini mengapa kamu bilang saya punya wanita simpanan tanyanya ini lihatlah teriak sang istri sambil menyerahkan cermin itu kepada suaminya sang suami melihat ke dalam cermin kemudian berkata lihatlah baik-baik ini kan gambar mendiang ayahku.
(selesaikanlah cerita ini versi kamu masing-masing!)

3.3.5 Menulis dengan Memanfaatkan Benda
Benda sebagai media dalam pembelajaran menulis model ini dapat benda apa saja. Benda-benda dimaksud adalah benda nyata bukan gambar suatu benda. Benda-benda itu boleh benda yang disiapkan sendiri oleh guru, boleh juga benda-benda yang dimiliki oleh siswa, misalnya alat-alat tulis, kacamata, sepatu, bahkan bisa juga baju seragam mereka. Siswa diminta menulis tentang benda yang dipilihnya. Sebagai contoh, siswa A memilih benda kacamata. Dia menulis tentang kacamata.
Kacamata
Waktu aku masih kecil, kelas II SD, aku sudah senang membaca. Aku suka membaca buku cerita terutama buku cerita yang bergambar. Waktu itu, di kampung kami belum ada listrik. Kalau malam hari, aku membaca memakai lampu teplok. Aku membaca sambil tidur. Hal ini berlangsung terus hingga aku kelas V.
Masa-masa awal aku duduk di kelas V, penglihatanku mulai suram. Aku merasa tidak begitu jelas melihat tulisan guru di papan tulis. Demikian juga mataku terasa perih dan berair ketika membaca tulisan yang hurufnya kecil. Untung pada tahun itu, aliran listrik sudah mulai masuk di kampung kami. Aku tidak lagi membaca memakai lampu teplok. Namun, meskipun waktu itu aku membaca dengan penerangan listrik, tak urung, mataku tetap terasa perih. Sejak waktu itu kondisi penglihatanku semakin bertambah parah.
Melihat kondisiku yang demikian, ayah membawaku ke dokter mata di kota. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa aku harus memakai kacamata. Sejak itulah kacamata menjadi teman setiaku untuk berbagai keperluan. Pandanganku akan suram jika tak berkacamata..
Suatu hari guru membawa mangga ke ruang kelas untuk pembelajaran menulis. Semua siswa diminta menulis sesuatu yang berkenaan dengan mangga. Berikut ini petikan sebuah hasil karya siswa.

Kenanganku
Enam tahun yang lalu, waktui itu aku kelas V SD. Ibuku tercinta mengupas mangga. Kala itu, kami hanya berdua di teras depan. Mangga harum manis yang dipetik oleh ayah di kebun kami tiga hari yang lalu sudah matang. Malam itu selesai salat magrib, ibu mengajakku duduk di teras depan rumah kami. Di tangannya ada pisau dan sebuah mangga yang ditaruhnya di dalam piring kaleng. Kami duduk dan berbincang. Ibu mulai mengupas mangga pelan-pelan. Setelah semua kulit mangga terkupas, ibu memotong mangga itu bagian demi bagian. Setiap bagian yang dipotongnya diberikan kepadaku. Kami terus ngobrol. Ibu bercerita banyak tentang masa kecilnya. Tanpa terasa mangga di tangan ibuku sudah habis. Yang tersisa hanya bijinya. Kusadari waktu itu bahwa ibuku tak makan sepotong pun mangga yang dikupasnya. Semua aku yang makan. Ketika itu kutanyakan padanya, ibu hanya mengatakan bahwa dia sudah puas melihat aku menikmati mangga yang dikupasnya.
Hari ini, ketika kulihat mangga seakan kulihat lagi tangan ibuku mengupas mangga. Terngiang di telingaku cerita tentang masa kecilnya bagai sebuah simponi. Masih kuingat raut wajahnya tersenyum manis melihat diriku menikmati mangga yang dikupasnya. Sayangnya, hari ini semua itu adalah kenangan. Ibuku tercinta telah menghadap-Nya kala diriku belum tamat SD. Sebuah mangga dalam hidupku adalah sebuah kenangan. Kenangan manis yang senantiasa bersemayam di relung jiwa. Kenangan manis akan orang tercinta.
(Sumber: Alamsyah, 2009)


3.3.6 Menulis dan Menjawab Pertanyaan
Strategi ini dapat diterapkan oleh guru dengan beragam model bergantung kepada kreativitas guru. Model-model yang dimaksud adalah semacam pengintegrasian aspek-aspek keterampilan berbahasa. Misalnya, integrasi antara keterampilan menyimak dan menulis, membaca dan menulis, ataupun berbicara dan menulis. Berikut ini dipaparkan strategi Menulis dan Menjawab Pertanyaan dalam bentuk integrasi membaca dan menulis. Langkah-langkah yang disarankan untuk ditempuh adalah sebagai berikut.
Model 1
• Pilihlah sebuah teks sepanjang maksimal tiga halaman.
• Bagilah teks tersebut kepada semua siswa.
• Mintalah mereka membaca dalam hati teks yang sudah dibagikan.
• Berilah tugas kepada setiap untuk menulis pertanyaan yang berhubungan dengan teks. Pada setiap akhir paragraf, guru dapat memandu dengan kata tanya yang dapat digunakan oleh siswa (misalnya, apa, siapa, mengapa, di mana, kapan, dan bagaimana)
• Mintalah mereka menjawab semua pertanyaan yang sudah mereka tulis.
• Lanjutkan pembelajaran dengan diskusi terhadap hasil kerja siswa.
• Pemberian penguatan dan simpulan pembelajaran.

Model 2
• Pilihlah sebuah teks sepanjang maksimal tiga halaman.
• Bagilah siswa atas empat kelompok (jumlah kelompok upayakan genap)
• Bagilah teks kepada semua siswa dalam setiap kelompok.
• Secara berkelompok tugaskanlah mereka menulis pertanyaan terhadap isi teks sesuai dengan panduan pertanyaan.
• Tukarkanlah pertanyaan setiap kelompok. Misalnya kelompok A dan kelompok C, kelompok B dan kelompok D.
• Mintalah mereka menjawab pertanyaan yang sudah diajukan oleh kelompok lain.
• Jika ada pertanyaan kelompok yang kurang tepat, mintalah mereka mengomentarinya secara tertulis.
• Bandingkan hasil kerja setiap kelompok.
• Presentasi, diskusi, pemberian penguatan, dan simpulan pembelajaran.

Contoh Teks
SINGA DAN TIKUS
Di hutan, hiduplah seekor singa yang dijuluki Si Raja Hutan karena ia besar dan sangat kuat. ia menjadi pemimpin seluruh binatang yang ada di hutan tersebut. Jika mengaum, suaranya sangat keras, menakutkan dan menggetarkan seluruh isi hutan. Ia sangat berwibawa. (apa, di mana, mengapa)
Alkisah, di hutan ini hidup juga sekelompok tikus yang tinggal di dalam lubang-lubang di antara bebatuan. Tikus-tikus ini tidak mengenal Singa Si Raja Hutan karena jarang keluar dari sarangnya. (mengapa)
Pada suatu hari, mereka keluar untuk bermain di atas bebatuan tempat mereka tinggal. Mereka berlompatan dengan riangnya. Kemudian, salah seekor dari tikus-tikus itu melompat tinggi. Ia terjatuh, jauh dari tempatnya melompat tadi. Dan, ternyata ia terjatuh tepat di atas kepala Singa yang sedang tidur lelap. (apa)
Singa terbangun kaget. Ia kemudian berdiri. Wajahnya teramat marah. Mulutnya menganga, memperlihatkan gigi-giginya yang tajam menakutkan. Terdengarlah aumannya yang sangat keras. Tikus-tikus tadi tersentak kaget. Mereka berlarian ke dalam bebatuan tempat mereka tinggal. Sementara Tikus yang terjatuh ke muka Singa tadi terdiam tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. (mengapa)
Sang Raja Hutan melihat Tikus kecil itu. Ia menangkap dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Si Tikus menjerit ketakutan. “Cit... cit... cit...” “Herrrggh... diamlah kau, Tikus kecil,” bentak Singa. “Kau makhluk lemah. Beraninya kamu berjalan di atas mukaku, sehingga mengganggu tidurku. Apa kau tidak takut? Aku akan membunuhmu!” kata Singa mengancam. (apa)
Tikus semakin ketakutan. Ia coba memberanikan diri. “Tolonglah, ampuni hamba, Tuan!. Jangan bunuh hamba. Mungkin suatu saat Tuan membutuhkan hamba.” (apa)
Mendengar itu Singa tertawa. “Apa? Kau makhluk kecil dan lemah kubutuhkan? Aku adalah Raja di hutan ini dan seisi hutan ini tunduk padaku,” Singa menjelaskan. “Tapi, baiklah, aku yang besar ini malu rasanya membunuh makhluk kecil sepertimu. Nasibmu beruntung hari ini. Pergilah!” Singa menghardik. (apa)
Kemudian, Singa melempar tikus jauh-jauh. “Terima kasih, Tuan!” teriak Tikus, yang segera saja berlari. Tikus kembali pada saudara-saudaranya. Ia menceritakan semua kejadian yang baru saja dialaminya. “Sungguh Raja Hutan itu baik sekali, telah melepaskan dan memaafkanku. Aku akan membalas kebaikannya itu,” katanya. (apa)
Suatu hari, Singa sedang berjalan-jalan di tengah hutan. Ia melihat sepotong daging yang besar di dalam jala. Ia tak sadar kalau itu perangkap pemburu. Ia makan daging itu dengan lahap. Lalu Singa pun terperangkap. Ia berusaha melepaskan diri dari perangkap itu. Namun, ia tak mampu melakukannya. Ia mengaum keras, menggetarkan seisi hutan. (bagaimana)
Berdatanganlah singa yang lain, istri, anak, dan saudara-saudaranya. Singa betina maju dan berusaha melepaskan tali perangkap dengan cakar-cakarnya yang tajam. Tapi, ia tak herhasil. Kemudian, majulah anak-anaknya, singa-singa kecil, dan bersama-sama memutuskan tali perangkap itu. Juga tak berhasil. Singa yang lain maju melakukan hal yang sama. Hasilnya pun sama. (apa)
Si Raja Hutan yang terperangkap itu kembali mengaum keras, sampai terdengar oleh Tikus yang terjatuh di wajah Singa tempo hari. Ia keluar dari lubangnya dan berlari ke arah datangnya suara. Ia melihat Singa yang terperangkap. (mengapa)
“Jangan takut, Tuan. Aku datang membantumu,” katanya. Singa-singa yang berada di situ melihat ke arahnya dengan heran. “Kami saja yang besar dan kuat tak mampu melakukannya, apalagi kamu yang lemah dan kecil,” kata mereka sangsi.
“Aku akan mencobanya,” jawab Tikus. Tikus mulai menggigit tali jerat dengan gigi-giginya yang tajam. Akhirnya, terputuslah tali-tali itu satu per satu, sampai salah satu kaki singa bisa terlepas. Tetapi, Singa yang besar itu tetap belum dapat melepaskan dirinya. Tikus itu pun terus menggigit tali-tali itu sampai akhirnya badan Singa terlepas semua. Singa bangun dan berteriak gembira bersama singa-singa lain. Ia sangat berterima kasih pada Tikus yang telah menolongnya.
“Ketika melepaskanmu dulu, aku tidak berpikir sama sekali bahwa suatu saat kau dapat menolongku. Lalu menyelamatkanku dari bahaya seperti yang kau lakukan sekarang ini. Ketika itu, aku memaafkanmu karena kau makhluk kecil dan lemah. Sekarang, aku tahu bahwa siapa pun dapat menolong yang lain. Makhluk yang lemah sekalipun. Terima kasih atas pertolonganmu,” ucap Singa.
“Sama-sama, Tuan,” kata Tikus. Tikus itu pergi dengan membawa pengalaman baru baginya. Ia berlari dan ingin segera menceritakan hal itu pada teman-temannya.
(Sumber: Majid A. Abdul Aziz, 2002).

3.3.7 Menulis Ulang Teks
Strategi pembelajaran menulis dalam bentuk Menulis Ulang Teks dapat dipadukan atau diintegrasikan dengan pembelajaran keterampilan menyimak dan membaca. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk pelaksanaan strategi ini adalah sebagai berikut.
Alternatif 1 (integrasi menyimak dan menulis)
• Pilihlah sebuah teks yang panjangnya maksimal 2 halaman.
• Perbanyaklah teks tersebut untuk semua siswa.
• Bentuklah formasi kelas melingkar (guru berada di tengah lingkaran)
• Bagilah teks kepada semua siswa.
• Bacalah teks tersebut dengan suara nyaring sebanyak 1 kali dan mintalah siswa menyimak pembacaan teks sambil memperhatikan (membaca dalam hati) teks yang ada pada mereka.
• Untuk memastikan siswa menyimak pembacaan teks, guru dapat meminta siswa melanjutkan membaca satu atau dua kalimat. Kemudian guru melanjutkan membaca teks dan meminta siswa yang lain melanjutkan satu atau dua kalimat.
• Setelah pembacaan teks selesai, guru menarik kembali semua teks yang dibagikan kepada siswa.
• Siswa diminta menulis ulang isi teks dengan bahasa mereka sendiri.
• Presentasi, diskusi, pemberian penguatan, dan menyimpulkan pembelajaran.

Alternatif 2 (integrasi membaca dan menulis)
• Pilihlah sebuah teks yang panjangnya maksimal 2 halaman.
• Perbanyaklah teks tersebut untuk semua siswa.
• Bentuklah formasi kelas melingkar (guru berada di tengah lingkaran)
• Bagilah teks kepada semua siswa.
• Mintalah semua siswa membaca dalam hati teks yang sudah dibagikan. Pada waktu membaca, siswa tidak diperkenankan menulis.
• Tentukanlah lamanya waktu bagi siswa untuk membaca teks (10-20 menit)
• Setelah waktu yang ditetapkan untuk membaca teks selesai, guru menarik kembali semua teks yang dibagikan kepada siswa.
• Siswa diminta menulis ulang isi teks dengan bahasa mereka sendiri.
• Presentasi, diskusi, pemberian penguatan, dan menyimpulkan pembelajaran.


3.4 Strategi Pembelajaran Berbicara
3.4.1 Debat Aktif
Debat bisa menjadi satu metode berharga yang dapat mendorong pemikiran dan perenungan terutama kalau siswa diharapkan dapat mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri. Ini merupakan strategi yang secara aktif melibatkan semua siswa di dalam kelas bukan hanya pelaku debatnya saja.
Langkah-langkah:
• Kembangkan sebuah pernyataan kontroversial yang berkaitan dengan materi pelajaran.
• Bagi kelas kedalam dua tim. Mintalah satu kelompok berperan sebagai pendukung atau kelompok yang ‘pro” dan kelompok lain menjadi penentang atau “kontra”.
• Berikutnya buat dua sampai empat subkelompok dalam masing-masing kelompok debat. Misalnya, dalam kelas dengan 24 orang siswa anda dapat membuat tiga subkelompok “pro” dan tiga subkelompok “kontra” yang masing-masing terdiri atas empat orang. Setiap subkelompok diminta mengembangkan argumen yang mendukung masing-masing posisi, atau menyiapkan urutan daftar argumen yang bisa mereka diskusikan atau mereka seleksi. Pada akhir diskusi, setiap subkelompok memilih seorang juru bicara.
• Siapkan dua sampai empat kursi (tergantung pada jumlah subkelompok yang ada) untuk para juru bicara pada kelompok “pro” dan jumlah kursi yang sama untuk kelompok “ kontra”. Siswa lain duduk di belakang juru bicara. Mulailah debat dengan cara juru bicara mempresentasikan pandangan mereka. Proses ini disebut argumen pembuka.
• Setelah mendengarkan argumen pembuka, hentikan debat dan kembali ke subkelompok. Setiap subkelompok diminta untuk mempersiapkan argumen yang menolak argumen pembuka dari kelompok lawan. Setiap subkelompok memilih juru bicara usahakan yang baru.
• Lanjutkan kembali debat. Juru bicara yang saling berhadapan diminta untuk memberi argumen penentang. Ketika debat berlangsung, peserta yang lain didorong untuk memberi catatan yang berisi usulan argumen atau bantahan. Siswa diperbolehkan untuk bersorak atau bertepuk tangan untuk masing-masing argumen dari wakil kelompok mereka.
• Pada saat yang tepat, akhiri debat. Tidak perlu menentukan kelompok mana yang menang, buatlah kelas melingkar. Pastikan bahwa kelas terintegrasi dengan meminta mereka duduk berdampingan dengan mereka yang berada di kelompok lawan. Diskusikan apa yang telah dipelajari oleh siswa dari pengalaman debat tersebut. Minta siswa untuk mengidentifikasi argumen yang paling baik menurut mereka.

Variasi
Tambahkan satu kursi kosong untuk juru bicara. Biarkan siswa mengisi kursi kosong ini kapanpun mereka menginginkannya. Mulailah segera aktivitas debat argumen pembuka. Lanjutkan dengan debat normal, tapi secara berulang-ulang, gantilah juru bicaranya.

3.4.2 Wawancara
Tujuan: Siswa dapat berwawancara dengan orang lain dengan bahasa yang logis, runtut, dan tepat. Siswa disuruh mewawancarai orang lain. Lalu siswa tersebut menuliskan hasil wawancara tersebut.
Alat yang diperlukan: Lembar daftar pertanyaan.
(Kegiatan dilakukan secara perorangan maupun kelompok).
Cara Menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan hari itu, (2) guru memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk memilih tokoh, pekerja, atau siapa saja yang dimungkinkan dapat ditemuinya, (3) siswa menulis daftar pertanyaan yang akan mereka wawancarakan, (4) siswa saling mereviu daftar pertanyaan yang dibuatnya, (5) siswa melakukan wawancara di luar jam sekolah berdasarkan daftar pertanyaan yang sudah direviu oleh temannya, (6) ketika di dalam kelas kembali, siswa melaporkan hasil wawancaranya secara lisan di depan kelompok (7) siswa menuliskan hasil wawancaranya ke dalam tulisan, (8) guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.

3.4.3 Pidato Tanpa Teks
Tujuan: Siswa mampu berpidato dengan lancar tanpa menggunakan teks. Siswa secara bergantian melakukan pidato di depan kelompok lain dengan tema sesuai ide mereka. Dalam waktu yang ditentukan, siswa melakukan pidato secara bergantian. Tugas siswa yang sudah atau belum melakukan pidato mengadakan pengamatan dan penilaian pada setiap siswa yang sedang berpidato, mengenai kelebihan dan kekurangannya.
(Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan gambaran singkat tentang cara pelaksanaan pembelajaran pada saat itu, (2) siswa membuat peta pikiran, (3) siswa mengidentifikasikan butir peta pikiran yang dibuat, (3) setiap siswa berpidato dengan peta pikiran yang dibuatnya di depan kelompok lain selama 10 menit, (5) siswa di kelompok lain memberikan penilaian, (6) siswa yang terbaik menurut penilaian kelompok diberi kesempatan berpidato di depan kelompok besar/kelas, (7) guru merefleksikan pembelajaran saat itu.

3.4.4 Menjadi Pembawa Acara
Tujuan: Siswa dapat menjadi pembawa acara dengan baik, lancar, dan runtut dalam resepsi, upacara, atau pergelaran. Siswa memilih acara yang ingin dibawakannya. Dalam membawakan acara, siswa dapat pula berpasangan.
Alat yang diperlukan: Mike atau pengeras suara.
(Kegiatan dapat dilakukan secara perorangan maupun berpasangan).
Cara menerapkan: (1) guru memberikan penjelasan singkat tentang kegiatan yang akan dilaksanakan hari itu, (2) siswa memilih sendiri acara yang ingin dibawakannya, (3) siswa menyusun acara, (4) siswa tampil sebagai pembawa acara di depan kelompok, (5) siswa lain mengikuti jalannya acara, secara bergilir mereka bergantian membawakan, (6) siswa lain memberi komentar tentang penampilan temannya, (7) guru merefleksikan hasil pembelajaran hari itu.


3.5 Rancangan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Rancangan program pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pengajaran yang dianut dalam kurikulum. Kurikulum, khususnya silabus, menjadi acuan utama dalam penyusunan program pembelajaran. Namun, kondisi lingkungan sekitar, kondisi siswa dan guru merupakan hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, dinyatakan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan ke¬giatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
Komponen RPP terdiri dari: Identitas mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, materi ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran (pendahuluan, inti, penutup), penutup, dan penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.
Berikut ini ditampilkan sebuah contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia.

SUMBER SUPLEMEN BAHASA iNDONESIA

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...